artikel

Selamat Datang Gen-Q

– Selamat Datang Gen-Q Endy Kurniawan

Apakah masih relevan menyematkan julukan dan penamaan sebuah generasi berdasarkan tahun lahir & karakteristiknya? Gen X (lahir 1966-1976, dijuluki ‘lost generation’ atau generasi skeptis dengan kepedulian sosial rendah), Gen Y (lahir 1977-1994, ‘technology and internet minded’, korban internet tapi bukan pelaku utama, modern dan susah untuk setia pada satu hal), dan Gen Z (lahir 1995-2012, generasi yang menjadi pelaku aktif multimedia melalui komputer dan internet, pembelajar cepat dan sangat ‘multi-tasking’). Secara akademis, kajian itu memang tak pernah habis. Karena tahun lahir menandakan lingkungan pembentuk diri dan karakter manusia. Tapi mari lihat lebih dalam. Dalam kajian sosio-teknologi, pembelahan Gen itu tajam dikritik.

Empat dekade di belakang, ada gap informasi yang lebar antar belahan bumi. Gap informasi ini membuat jarak waktu terasa lama. Gen X yang lahir pada 1966-1976 menggunakan acuan situasi sosial-budaya yang terjadi di barat (Eropa dan Amerika). Sebagian besar generasi itu berinteraksi sangat intens dengan televisi berwarna, grup musik pop dan perang dingin ketika beranjak dewasa. Hal mana tak terjadi di Asia dan Afrika yang justru baru tumbuh, penuh semangat namun dalam konteks lokal. Hot news perlu waktu untuk sampai di negara bagian selatan ekuator yang berisi 70% penduduk bumi – dan terbelakang maupun berkembang. New trends perlu waktu untuk diadopsi. News & trends itu adalah pembentuk mindset kolektif sebuah generasi. Di dunia yang makin datar dan terhubung, pendefinisan Gen Y dan Gen Z yang muncul setelahnya tak lagi cocok.

Maka selamat datang Generation Q. Generasi yang didefinisikan berdasarkan intensi yang muncul menjadi karakter, bukan lagi tahun lahir yang mempengaruhi lingkungan & kepribadiannya. Karena lingkungan eksternal tak lagi bisa dibedakan. Dunia menjadi kampung kecil yang saling kenal & saling mempengaruhi satu sama lain. Hanya beberapa daerah remote di pojok Afrika yang tak tersentuh teknologi, komputer, tablet dan internet. Saat ini, influencer pada manusia yang lahir pada tahun 1976, 1986 dan 1996 nyaris sama karena diterkam informasi similar yang muncul di jejaring dan ekosistem digital iTunes, Youtube, Facebook, Snapchat, LINE dan Instagram. Dan personalisasi idola seperti Maroon5, One Direction, Lewis Hamilton, Taylor Swift, Kendal Jenner, Barack Obama menjadi susah dibedakan antara siapa pun yang sedang hidup di bumi saat ini.

Gejala sosial ini sudah sangat banyak muncul di sekitar kita. Diawali dengan komunitisasi yang berkumpul karena kesamaan interest dan passion. Belakangan, kolaborasi itu makin cair dan orang bisa berkumpul karena tujuan-tujuan yang lebih besar seperti bisnis, gerakan sosial dan kemanusiaan. Co-Working Space (Collaborative Working Space, sebuah tempat kerja bersama tanpa sekat tempat maupun organisasi) makin menjamur. Kita kenal Crowdfunding, pendanaan beramai-ramai yang bertujuan menyelesaikan masalah sosial bahkan untuk mendanai bisnis pada fase seeding. Demikian juga ramai yang namanya collaborative blogging. Aplikasi sosial seperti GPS untuk rute bantuan medis melalui drone di daerah konflik pun saat ini dihasilkan bersama-sama oleh pegiat drone dari berbagai negara (studi kasus : UpLift Aeronautic, USA). Dalam bisnis, produsen pun terkena imbasnya. Ia harus ‘rela berbagi’ dengan penyedia jasa bisnis lainnya yang serumpun. Produsen tak perlu jago di semua hal. Ia bisa meminta pihak lain untuk memanufaktur produk power bank, pihak lainnya untuk memasarkan, dan pihak satu lagi untuk melakukan pengiriman. Ia sendiri cukup punya teknologi dan hak mereknya.

Generasi Q (Qolaborative) adalah pemilik karakter yang lahir dari kebijaksanaan yang ada pada dirinya karena melihat dunia dalam perspektif tanpa sekat (borderless world) dan melihat teknologi sebagai enabler, bukan lagi sebagai monster yang membuat kecanduan. Masa itu telah lewat. Gen-Q tak melihat tahun lahir, tapi intensi dan karakteristik aktif pada dirinya. Generasi Qollaborative ini dideskripsikan oleh S. James Gates Jr., seorang ilmuwan di bidang theoretical physicist di University of Maryland sebagai generasi yang (1) memiliki keinginan untuk melahirkan ‘social shifting’ yaitu perubahan sosial secara signifikan, (2) Nyaman dengan teknologi dan selalu terkoneksi dengan dunia luar melalui internet.

Dari seluruh penjelasan tentang Qollaborative Generation yang ada, dapat disimpulkan 3 ciri utama Gen-Q yaitu :

1) Qreactive. Merupakan kombinasi antara QREATIVE dan ACTIVE. Ia aktif mencari permasalahan di sekitarnya dan kreatif mencari solusi. Gen-Q memilik inisiatif tinggi, tak bisa diam serta mempunyai kepedulian yang tinggi. Orang dengan karakter Qreactive ingin menjadi inisiator dan motor perubahan menuju kebaikan.

2) Qonnected. Gen-Q berteman dan mempunyai akses ke berbagai kalangan, komunitas, level dan society. Ia mampu mengajak orang bergerak untuk mendukung. Gen-Q adalah seorang Social Leaders dalam makna offline maupun online.

3) Quality Oriented. Gen-Q bisa menginspirasi melalui aksi, menggerakkan melalui komunikasi. Tapi ia memilih simpul perubahan yang signifikan, yang penting, yang membawa perubahan besar. Dan perubahan itu utamanya harus membawa perbaikan kualitas hidup secara bersama-sama.

So, selamat datang Generation Q. Anda tak harus muda secara usia. Anda peduli, punya inisiatif dan mengajak orang membawa kebaikan, cukuplah itu penanda utamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s