kisah

Mereka Meludah, Kita yang Jilat

Kalau Anda pernah menonton film “The 13th Warrior” yang dibintangi Antonio Banderas yang berperan sebagai Ahmad bin Fadhlan, seorang Duta Besar Dinasti Abbasiyah yang diasingkan ke Eropa karena rasa iri seorang pembesar istana, Anda akan melihat perbedaan yang sangat mencolok antara peradaban Arab Islam abad pertengahan yang telah dihiasi oleh lampu-lampu dan seribu menara di Baghdad, dengan peradaban Eropa yang masih gelap ditutupi oleh kabut mitos dan kebodohan. Salah satu hal yang mencolok itu terlihat jelas dalam pakaian, di saat Banderas berpakaian sutra yang dihiasi jahitan-jahitan benang emas, raja Eropa masih berpakaian dari kulit binatang, dari segi kebersihan anda akan melihat bagaimana cara orang-orang Eropa saat itu membersihkan diri ketika mereka bangun tidur, satu panci air mereka gunakan untuk mencuci muka dan berkumur-kumur 6 orang, pastilah setiap yang berkumur-kumur menyembur kembali air dari mulutnya ke dalam panci! Kalau anda mengikuti film itu sampai akhir, anda akan melihat banyak kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran yang dimiliki Banderas dibanding 12 teman-temannya yang lain dari bangsa Eropa.

Itu hanya sekilas tentang kemajuan yang dicapai bangsa Arab Islam pada abad pertengahan, namun hari ini semua telah terbalik. Ketika Islam berkembang di Andalusia, bangsa Eropa beramai-ramai mencari cahaya yang terpancar di sana yang menembus langit ke tujuh. Sedikit demi sedikit cahaya ilmu pengetahuan berpindah ke Eropa, berbagai macam hal positif yang ditanamkan bangsa Arab Islam berpindah ke Eropa, dari bangsa tidak beradab dan tidak berakhlak menjadi bangsa yang hari ini menjadi “produsen” peradaban, kita katakan peradaban tanpa melihat peradaban itu sesuai atau tidaknya dengan norma-norma agama.

Kita tidak menyalahkan bangsa Eropa mentah-mentah atas ketertinggalan kita hari ini, tapi sepatutnya kita juga mengintrospeksi diri. Pada saat Islam maju meninggalkan bangsa Eropa, umat Islam di Andalusia mulai terlena dengan apa yang dicapai oleh nenek moyang mereka, di lain pihak, bangsa Eropa yang merasa iri dengan kemajuan Islam mulai menggali semua mutiara yang diwariskan ulama-ulama dan ilmuwan-ilmuwan muslim, sampai akhirnya pada masa Ratu Isabella terjadi pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam di Andalusia yang dilakukan oleh dewan inkuisisi, dan sejak itu berakhirlah sejarah umat Islam di Andalusia.

Dalam sebuah percakapan antara 12 ksatria Eropa dalam “The 13th Warrior” itu, mereka membicarakan tentang kehidupan keluarga mereka, ternyata kebanyakan mereka tidak tahu siapa ayah mereka yang sebenarnya, karena memang saat itu free-sex sudah menjamur dalam kehidupan sosial mereka. Selain kebiasaan-kebiasaan buruk itu, masih banyak lagi seabrek kebiasaan-kebiasaan amoral lain yang menjadi kebiasaan mereka.

Beberapa waktu yang lalu, tanggal 2 Juli 2009, pemerintah Russia di Moscow mengeluarkan undang-undang penutupan seluruh Casino dan Night Club di Moscow. Pemerintah Russia mendapatkan devisa sebesar 20.000 milyar dolar pertahun dari Casino dan Night club, nominal yang sangat besar yang harus dipertimbangkan sebelum menutup tempat-tempat tersebut. Tapi menurut pemerintah, harga negatif dari pertumbuhan kriminal yang harus dibayar karena casino dan night club lebih besar dari pada devisa sebesar 20.000 milyar dolar yang mereka raup pertahunnya. Berita ini disiarkan oleh BBC, namun tidak ada satupun dari stasiun televisi Arab yang menyiarkannya.

Di negara kita, tempat-tempat demikian, baik yang legal maupun ilegal tumbuh bagai jamur di musim hujan, mungkin ini adalah salah satu hasil dari isu globalisasi yang diusung oleh Amerika Serikat yang sedang mekar di negara kita, mereka meludah kita yang menjilat!

Ada sebagian anak-anak muda Islam yang ketika pulang dari studinya di Eropa mengajak bangsanya yang menurut dia tertinggal untuk meninggalkan agama, karena doktrin agamalah yang membuat bangsa kita tertinggal, Imam Syafii adalah salah satu tokoh yang mengebiri umat selama berabad-abad, dan kenapa bangsa Eropa saat ini bisa terbang ke angkasa, itu tidak lain karena mereka meninggalkan doktrin-doktrin agama dan menganut ide kebebasan!

Ada lagi yang mengatakan bahwa untuk apa saya terus belajar agama Islam, khususnya Syariah? Toh, membuat mobil, menggali minyak bumi dan gas lebih dibutuhkan dari pada pembahasan tentang thaharah, shalat, zakat dan kitabul buyu‘! Apa yang bisa saya sumbangkan untuk umat manusia kalau cuma belajar syariah?
Dua buah analisa yang luar biasa, dan benar begitu adanya! Kita mengakui itu adalah sebuah realita yang benar, dan bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, tapi ada sedikit kesalahan konklusi, yaitu pertama bahwa sumber dan sebab kemunduran umat Islam adalah doktrin agama, dan sumber kemajuan bangsa Eropa adalah meninggalkan agama. Kedua kecilnya peran ilmu agama khususnya seperti yang dianggap sebagian pelajar agama.

Untuk hal pertama, benar dan sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Eropa maju karena mereka meninggalkan agama mereka, meninggalkan doktrin-doktrin gereja yang menghambat ilmu pengetahuan untuk melangkah. Nicolas Copernicus, Galileo Galilei adalah di antara korban yang disalib dan dibakar oleh gereja karena mereka melawan doktrin gereja yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya, selain itu masih banyak lagi doktrin-doktrin gereja Eropa yang membuat orang-orang yang berpikir seperti Nicolas Copernicus untuk meninggalkan doktrin itu dan mencap agama adalah sumber kemunduran, begitu juga yang terjadi kepada para ksatria Templar (Knights of Templar) pada abad pertengahan, dibakar hidup-hidup karena menentang kebijaksanaan gereja yang tidak bijaksana. Nah, sekarang kalau kita analogikan agama yang dianut penduduk Eropa dengan Islam, maka sebuah analogi yang salah, karena agama kita adalah agama ilmu pengetahuan, puluhan ayat dalam Quran menganjurkan kita untuk terus belajar, dan bahkan agama kita menempatkan ilmuwan dan ulama di atas yang lain, Allah berfirman: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat di atas orang lain”. Kemudian, kalau kita lihat sekarang, apakah bangsa-bangsa yang berpenduduk muslim yang tertinggal sekarang adalah komunitas bangsa yang mengikuti doktrin-doktrin agama? Kalau memang hal itu benar, maka Thariq bin Ziyad yang menaklukkan Andalusia dan Sultan Muhammad al-Fateh yang menaklukkan Konstantinopel adalah orang-orang yang meninggalkan doktrin-doktrin agama? Ibnu Sina, Ibnu Nafees dua ahli kedokteran bisa maju, apakah karena mereka meninggalkan doktrin-doktrin agama? Tetapi kenyataan dan sejarah mengatakan bahwa mereka semua hamba-hamba Tuhan yang patuh yang selalu menjalankan perintah Tuhan mereka! Bangsa Eropa meninggalkan agama menuju kemajuan, tapi kalau kita keluar dari agama maka kita akan masuk ke dalam dunia kekufuran, dunia yang dihuni bangsa Eropa berabad-abad dalam kegelapan. Makanya sekulerisme di Eropa adalah sistem yang bagus karena mereka tidak beragama, tapi sekulerisme tidak bisa dipraktekkan dalam kehidupan beragama Islam seperti kita.

Hal yang kedua, anggapan bahwa kecilnya peran yang bisa disumbangkan pelajar syariah, memang ada benarnya juga anggapan seperti ini, tapi kesalahannya lebih besar!

Ide yang menjadi opini umum akibat terlalu lama terjajah adalah pemisahan antara agama dan negara, agama hanya kumpulan ritual yang mengatur hubungan vertikal saja, antara Tuhan dengan makhluk-Nya dan itu lebih dominan nanti hari akhirat, sedangkan hubungan horinzontal, antara sesama makhluk tidak ada campur tangan agama. Pemikiran tersebut tidak hanya subur di kalangan pihak yang tidak suka agama, bahkan sekarang mulai menjamur di kalangan pelajar agama, yang akhirnya pikiran itu bermuara bahwa agama hanya sebatas thaharah, shalat dan zakat, paling banter ngurusin walimahan atau tahlilan buat orang mati, kalau ditanya contoh fardhu kifayah, pasti jawaban klasik itu yang keluar, yaitu shalat jenazah!
Memang dengan belajar Fiqh, Aqidah, Ushul Fiqh, Tafsir sampai habis isi maktabah syamilah juga tidak akan bisa menghasilkan ilmuwan yang bisa menggali minyak, menciptakan mobil! Tapi apakah itu saja bagian dari kehidupan manusia? Hanya uang, mobil, minyak, tiket pesawat dan foya-foya dengan harta? Dalam kehidupan kita juga butuh akhlak, yang bisa menjaga stabilitas kehidupan sosial, yang dengan akhlak itu komunitas kita menjadi berbeda dari komunitas hewan. Kita tidak hanya butuh ilmuwan yang hanya pintar membuat besi terbang, karena ilmuwan yang tidak berakhlak itulah yang membuat pesawat tempur pembunuh manusia, meng-cloning manusia, dan memperbudak sesama!

Akhir-akhir ini, orang-orang barat mulai kembali menyajikan pemikiran bahwa untuk hidup sejahtera dalam masyarakat kita hanya butuh akhlak dan ilmu pengetahuan, tanpa harus memusingkan diri dengan ritual-ritual agama. Karena akhlak dan pengetahuan bisa mewujudkan semua apa yang kita harapkan dalam masyarakat terjadi.

Sekali lagi, ludah mereka menjadi bahan diskusi panjang dan dijilat oleh sebagian anak bangsa kita. Kalau memang benar begitu adanya, kita akan bertanya,”Berapa banyak buku yang dibaca oleh orang yang menciptakan dan melemparkan bom di Hiroshima dan Nagasaki?”, kalau memang kehidupan bisa damai dengan akhlak dan ilmu pengetahuan tanpa agama, kenapa itu bisa terjadi? Kalau seandainya kita melihat korban dari pengeboman itu, maka kita tidak akan mungkin mengatakan itu adalah perbuatan manusia yang berakhlak dan berilmu pengetahuan, bahkan mungkin binatang sekalipun tidak akan tega berbuat demikian! Di mana akhlak dan pengetahuan tanpa agama?

Tanyakan kepada pilot-pilot Amerika yang masih hidup sampai saat ini, apakah mereka punya akhlak sedikit saja untuk menyesali apa yang mereka lakukan setelah melihat efek dari bom yang mereka lempar 65 tahun lalu? Seakan ratusan ribu manusia yang mati di Hiroshima dan Nagasaki adalah lalat-lalat di atas bangkai yang tidak berharga.

Dalam taubat ayat 122, Allah berfirman:”Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali”.

Mungkin ayat ini cukup sebagai jawaban atas pertanyaan di atas, Allah ingin ada sebagian orang yang belajar agama untuk menjadi pemberi peringatan bagi sesama. Itulah kehidupan, tidak semua jadi orang kaya, tidak semua orang miskin, tidak semua dokter, tidak semua arsitek, tapi keanekaragaman itu ada untuk saling melengkapi, kita bersatu di bawah perbedaan.
Wallahu a’lam

Penulis : Saief Alemdar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s