motivasi

Be a Positive Muslim!

 

Be a Positive Muslim!

Seorang positive muslim adalah orang yang memiliki keikhlasan, berbudi tinggi, berdisiplin, berbadan sehat dan berpikiran terbuka. Orang seperti ini selalu saja terdepan dan menjadi teladan bagi orang lain. Lima sifat yang apabila terkumpul dalam diri seseorang akan melahirkan sebuah kepribadian yang luar biasa, dia tidak akan menjadi kepribadian yang memberi contoh, tetapi sebuah pribadi yang menjadi contoh.

Kita tidak usah muluk-muluk dengan pembagian filosofis sifat dan watak manusia, kita lihat saja kepribadian-kepribadian yang ada di sekeliling kita, ada dua macam manusia. Manusia yang selalu berpikiran positif, penuh confidence, dan selalu optimis, manusia kedua yang selalu melihat sisi gelap dari kehidupan, pesimis dan tidak berani menatap matahari.

Banyak ayat dan hadis yang menyuruh kita untuk selalu berpikir positif dan optimis dalam hidup, semua ayat-ayat tawakkal adalah anjuran untuk berpikiran positif dan optimis dalam hidup. Dengan seabrek tuntunan dalam kitab dan sunnah, maka tidak sepantasnya seorang muslim itu menjadi pribadi yang minder dan pesimis. Dalam al quran allah mengatakan bahwa putus asa adalah sifat orang-orang sesat (al hijr 56).

Selalu melihat sisi positif dari dari kehidupan sangat penting untuk membentuk pribadi positive muslim, contoh saja ketika anda berdoa untuk meraih sesuatu, dan ternyata setelah berusaha dan berdoa, anda belum berhasil mendapatkan tujuan anda, “orang yang sesat” akan berhenti berusaha dan marah kepada Tuhan yang telah “mengingkari” janjiNyA, tetapi seorang positive muslim akan berpikir lain, dia akan mengatakan:

1. Ada hikmah lain di sana,
2. Kurang maksimalnya usaha saya,
3. Allah menunda harapan saya, dan akan di balas dengan sesuatu yang lain yang pasti much better!,
4. Cobaan agar saya lebih berpengalaman,
5. Ujian keimanan, apakah Iman saya batu karang yang tahan diterpa ombak, atau cuma koran pembungkus kacang rebus yang basah…

Rasanya aneh, seorang hamba Allah yang selalu salat dan memiliki hubungan dengan Penciptanya, tetapi tidak bisa merasakan kebahagiaan dan hidup, mau senyum saja seakan berat sekali, setengah terpaksa. Padahal banyak sekali hal-hal yang bisa membuat batin kita bahagia, duduk 5 menit di masjid setelah salat untuk curhat kepada Allah akan meringankan beban batin, mengingat bahwa Allah itu Tuhan kita yang maha pengasih dan penyayang, tidak mengkin Dia akan menerlantarkan kita selama kita masih mau bergantung padaNya, dan apa yang kita rasakan baik suka maupun duka pasti ada balasannya, mengingat keindahan cipataan dan nikmat Allah pada kita dan mengigat semua musibah yang tertimpa kepada orang lain dan Allah telah menghindarkan kita dari itu semua, mencoba melupakan semua hal-hal negatif dan gelap yang terjadi dan selalu berpikir positif. Semua itu akan mencurahkan kebahagiaan kedalam hati kita, coba saja kalau tidak percaya!

Seorang yang baru belajar mengemudi mobil kadang-kadang berpikir bagaimana kalau tiba-tiba ada truk menabrak saya, atau saya menabrak orang tua yang menyebrang jalan, seorang wanita takut kawin karena banyak pasangan yang bercerai, semua pikiran negatif begitu penghambat kita untuk maju, berapa banyak kecelakaan yang terjadi di jalan? Seandainya pikiran negatif tidak terlintas dalam pikiran kita, kita bisa fokus untuk menyetir mobil dan menghindari kecelakaan, berapa pasangan yang bercerai dan berapa pasangan yang setia sampai menjadi kakek dan nenek? Saya kira sisi positifnya jauh lebih banyak dari pada sisi negatifnya.

Sebagian lagi “berlari” di belakang uang untuk mencari kebahagiaan, siang malam dia sibuk mengumpulkan uang, entah kapan mau menikmati hidup. Anehnya lagi, kasus bunuh diri banyak terjadi di Negara-negara maju, apa kata orang yang hidup di tengah hutan afrika yang tidak pernah bergelimang harta? Mereka tidak bunuh diri, tetapi orang-orang di Negara maju dan berkembang yang hidup bergelimang harta malah bunuh diri. Dari fenomena ini kita bisa tahu bahwa di sana ada kesalahan dan pola berpikir, dan harta bukan mutlak sumber kebahagiaan. Jadi kita butuh balancing dalam hidup, akhirat adalah tujuan, tetapi media dan jalan ke akhirat adalah dunia.

Kita harus selalu berusaha melihat sisi positif dari semua hal, apabila terlintas pikiran negatif, langsung kita ubah menjadi positif. Misalnya begini, suatu ketika kita diminta untuk menyapaikan sambutan dalam sebuah acara, mungkin akan terlintas pikiran negatif yang kita bayangkan dan kita ciptakan sendiri, ” aku pasti nggak bisa, aku pasti keringetan, bagaimana kalau teks yang aku pegang jatuh karena aku gemetar, nanti ada bapak Fulan di sana, bagaimana……..”, pikiran ini yang saya jamin akan membuat kita gagal dalam misi memberi sambutan. Alangkah indahnya kalau kita berfikiran, ” ini kesempatanku untuk tahu kelemahanku dalam berpidato, ini kesempatanku muncul di depan umum, ini kesempatanku untuk mendapat beberapa teguran dari bapak Fulan supaya penampilanku selanjutnya lebih baik,….”.

Untuk menjadi positive muslim, kita harus selalu berpikiran terbuka dan komprehensif, tidak hanya terpaku pada apa “katanya”, “kata orang”. Misalnya dalam mengartikan “kesuksesan”, hampir semua orang berpikir bahwa sukses adalah bisa mengumpulkan uang banyak, memiliki popularitas dan jabatan luar biasa dan berkuasa penuh. Padahal dalam agama kita bukan itu yang namanya sukses, kesuksesan yang kita raih tidak bisa membuat kita meraih kesuksesan akhirat adalah kesuksesan kecil, semu dan sementara, karena dunia ini memang kecil dan hanya sementara, silahkan hidup dan kumpulkan kekuasaan, popularitas dan harta sebanyak mungkin, tapi ingat suatu hari anda akan mati dan hanya membawa kain kafan. Kesuksesan yang sebenarnya adalah Harta + Jabatan + Popularitas = Amal Saleh.

Karakteristik pemikiran Positive Muslim

Karakteristik ini dimiliki oleh semua orang di semua belahan dunia, hanya saja seorang muslim tetap memiliki kelebihan, dan yang paling jelas adalah perbedaan sandaran dan tujuan, sandaran dan tujuan kita adalah Allah, melalui tuntunan kitab dan sunnah.
Permasalahan ada dalam kemauan

Yang harus kita tanam dalam diri kita adalah kemauan dan tekad yang kuat, sekarang permasalahannya bukan kemampuan melakukan, tetapi kemauan untuk itu, kita mau atau tidak, kalau kita mau pasti kita akan mampu, insyallah. Hanya sedikit perbedaan antara orang positif dan negatif di sini, orang negatif mengatakan, ” Itu mungkin, tapi susah”, sedangkan orang positif akan mengatakan, ” Itu susah, tapi mungkin”. Kita sering menutup kenyataan indah dengan pikiran negatif kita, kita menganggap diri kita lemah, padahal tidak demikian, kita mampu, cuma kita tidak mau.
Diri kita sendiri sumber masalah

Kalau kita malas itu artinya problem ada dalam diri kita sendiri, jadi selalu introspeksi diri apabila terjadi kegagalan atau belum mendapatkan tujuan. Jadi, apabila terjadi kegagalan maka bisa dipastikan hampir semua unsur kegagalan itu ada di tangan kita sendiri.

Memang ada unsur luar, mungkin keluarga, teman atau tetangga, namun mereka bukan unsur utama, mereka hanya pelengkap saja. Seorang pegawai mengeluh karena atasannya dhalim karena sering memarahinya, sedangkan pegawai lain tidak pernah mengeluhkan hal itu, di sini pasti ada kesalahan dalam menyikapi masalah, mungkin saja pegawai itu malas, banyak bicara tidak pernah kerja dengan baik, sehingga atasannya memarahinya, dan dia menyikapi kemarahan itu adalah sebuah kedhaliman, seandainya ketika dimarahi dia introspeksi diri, maka problem solved, and mission completed.
Menang atas diri sendiri

Perang yang sebenarnya dan paling besar adalah perang melawan diri sendiri, untuk menjadi positif muslim, seseorang itu harus mampu melawan dirinya sendiri, melawan nafsunya, melawan malasnya, dan melawan semuanya sifat dan pikiran negatif yang bersarang dalam kepalanya.
Harta bukan sumber masalah

Harta dan kelemahan ekonomi bukan masalah utama yang bisa menggagalkan semua, dia buka problematika yang tidak ada solusinya, ada yang mengatakan, ” Laki-laki yang membuat uang, uang tidak akan membuat laki-laki”.

Banyak orang yang hidup susah dan menderita di awalnya, tetapi dengan tekad dan kemauan dia menjadi besar. Perang dunia kedua menghancurkan habis Negara Jerman, tetapi rakyat Jerman punya prinsip hidup, tekad baja, pemikiran positif, meskipun Negara mereka hancur, namun sifat-sifat itu tetap ada dalam hati mereka. Dan nyatanya, 12 tahun kemudian Jerman kembali muncul di panggung dunia sebagai raksasa teknologi, mereka membangun Jerman dengan prinsip hidup, tekad baja, pemikiran positif di bawah redupnya cahaya lilin. Mereka berpikir, “Kalau saya tidak membangun Negara saya, siapa lagi?”.
Tahu diri

Seorang positif muslim akan selalu berusaha mengenali dirinya sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahannya. Titik kelemahan dan kelebihan kita tidak terlihat, dia tersembunyi, oleh karena itu harus selalu introspeksi dan mengekplorasi kelebihan kita untuk selanjutnya bisa kita eksploitasi semaksimal mungkin.

Kadang-kadang seseorang itu memiliki banyak kelebihan dan keahlian dalam leadership, dan dia menyadari itu, hanya saja dia emosian dan cepat marah, tapi dia tidak menyadarinya. Kelebihan tadi tidak bisa dieksploitasi secara maksimal, karena ada sedikit kelemahan yang tidak disadarinya. Sifat pemarah ini menjadi penghambat dia untuk manjadi seorang pemimpin, baik dalam kadar besar maupun kecil.

Salah satu kelebihan yang bisa menjadi sumber kekuatan adalah sifat tawadhu ( rendah hati, bukan rendah diri), orang yang tawadhu itu bisa merangkul orang yang lebih tua, yang lebih kecil, yang lebih kuat, semua orang akan tertarik dengan kepribadian begitu, meskipun mereka tahu bahwa orang tersebut tidak memiliki banyak kelebihan, hanya orang biasa saja, tapi dia penuh ketawadhuan dalam bergaul.

Sifat tawadhu ini sangat menguntungkan, antara lain dengan sifat itu dia akan menerima setiap masukan dari orang lain dan selalu siap menerima manfaat dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki orang lain, berbeda dengan orang yang sombong, dia tidak mau menerima dari yang lebih kecil, yang lebih lemah ataupun dari orang yang memiliki clash dengannya dalam masalah pribadi. Makanya dikatakan, “Dua orang yang tidak mungkin bisa pintar, yaitu orang malas dan orang sombong”.

Membentuk watak dan jati diri jauh lebih susah dari pada membangun jembatan gantung dan gedung-gedung tinggi. Negara boleh saja hancur, rata dengan tanah, tetapi kepribadian yang dimiliki rakyat tidak akan hancur.

Penulis: Saief Alemdar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s