artikel

Air Mata Sulit Menetes

cryAssalamu’alaikum….Kak kenalkan namaku Hasan tinggal di suatu pondok pesantren di Jogja.Ana mau curhat. Sebenarnya ana punya masalah.
Pertama, sejak akhir-akhir ini ana tiba-tiba patah semangat terhadap apa yang ana hadapi sekarang. Yaitu ketika ana membaca Al Quran hati ingin meneteskan air mata,akan tetapi ana masih belum bisa. Bagaimana ya Kak,biar ana mendapatkan yang mana tidak dapat  oleh seseorang padahal itu suatu kenikmatan bagi ana sendiri. Kedua, gini Kak,adik ana kan sekolah di luar. Ia tidak mau mengenakan jilbab gede. Ketika ana di rumah dia  juga tidak mau juga. Padahal sudah ana sering nasehatin bahkan kalau ana di rumah. Tapi masih saja belum memakai jilbab gede.Mohon,ana lagi butuh dukungan dari Kakak.
Hasan (nama samaran)- Jogja
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh
Hasan yang baik….untuk keinginanmu agar dapat meneteskan air mata saat membaca Al Quran, sebenarnya adalah keinginan yang yang baik karena itu adalah suatu bentuk kebaikan. Allah sendiri memuji orang shalih  yang menangis ketika membaca Al Qur’an, dalam firman-Nya, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra’: 109). Namun demikian tidak diharuskan bagi seseorang untuk menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
Hasan…hati yang keras tentu tidak akan pernah merasakan manisnya membaca Al Qur’an. Dan sebaliknya hati yang lembut dan lunak akan semakin mudah merasakan manisnya membaca Al Qur’an. Maka agar hati ini menjadi lembut hendaknya selalu berupaya menghindari

maksiat dan dosa, baik yang besar maupun dosa kecil. kemudian,  di saat seseorang membaca  Al-Quran dengan memperbagus bacaan (tartil) disertai dengan mengetahui makna dan memahami isinya dalam keadaan tenang, ikhlas untuk Allah semata tanpa ada niat riya’ atau pamer di hadapan manusia,  insya Allah air mata akan keluar dengan sendirinya. Sebaiknya, luruskan niat terlebih dahulu agar ikhlas untuk Allah  semata. Biarkan semua mengalir dengan sendirinya seiring dengan keikhlasan yang kamu usahakan. Dan jangan  lupa selalu meminta kepada Allah agar hati kita dijadikan lunak bukan hati yang keras. Untuk menjadikan hati lunak tidaklah mudah, perlu kesungguhan dan upaya keras. Karenanya handaknya kita selalu berupaya keras dan selalu meohon pertolongan-Nya.

Untuk pertanyaan kedua tentang sang adik yang belum memakai jilbab.Di sini kakak lebih ingin menyoroti masalah ini dari sisi psikologis. Pertama,  bagaimana kedekatan emosional antara Hasan dengan adik, mengingat selama ini sering terpisah jarak? Apakah sangat dekat atau atau tidak terlalu dekat? Menurut kakak, ini juga dapat mempengaruhi penerimaan adik dalam menerima nasihat yang kamu berikan selama ini. Maksudnya begini, jika selama ini Hasan  sangat dekat secara emosional dengan adik, tentu adik akan lebih mudah untuk mau mendengarkan dan menerima nasihat (didukung faktor hidayah tentunya). Namun jika selama ini tak begitu dekat,atau bahkan sering adu mulut, tentu sulit baginya menerima perkataan apapun darimu. Oleh karena itu, Hasan harus melakukan pendekatan emosional terlebih dahulu. Jika ini yang terjadi, dekati adik terlebih dahulu dengan akhlak yang baik, bertutur kata yang baik, membantu kesulitannya, bahkan menjadi temannya berbagi cerita saat ia pulang ke rumah. Dengan adanya kedekatan emosional, insya Allah dengan izin Allah,sang adik lebih mudah menerima ilmu yang Hasan sampaikan. Kemudian,  jagalah  kedekatan emosional ini selamanya, bukan sesaat karena ada maunya…

Kedua, adalah bagaimana cara penyampaiannya. Seringkali terjadi, maksud yang baik menyampaikan nasihat, menjadi tertolak karena cara penyampaian yang kurang berkenan di hati penerima nasihat. Perhatikan ini! Apalagi yang diberi nasihat adalah seorang wanita, yang jelas lebih sensitif perasaannya. Umumnya, seorang wanita akan terserang harga dirinya (merasa tidak dihormati) jika  dinasihati untuk melakukan sesuatu kebaikan yang disampaikan dengan kata-kata yang keras atau dengan paksaan. Mungkin bisa jadi dalam hati kecilnya mau menerima kebenaran isi  nasihatnya namun karena disampaikan  dengan kata –kata kasar,ia merasa tidak dihormati, akhirnya menolak nasihat tersebut hanya karena cara penyampaian yang keliru. Jangan sampai ini yang terjadi. Sebaliknya, seorang  wanita akan  merasa dihargai, jika ia mendapat nasihat cara yang halus/lemah lembut.Misalnya saja,”Dek, kakak minta waktunya sebentar ya. Kakak tahu kamu belum ingin berjilbab sekarang.Tidak apa-apa.Ini ada buku tentang jilbab yang kakak belikan khusus untukmu. Tolong luangkan waktu untuk membacanya yaa….”. jadi berikan dia kesempatan untuk menrenung dan memikirkan juga.
Kedua  hal tersebut harus diperhatikan terlebih dahulu untuk kemudahan penerimaan nasihat. Setelah itu, Hasan harus meyakini bahwa berhijab adalah masalah hidayah. Hidayah datang dari Allah. Adalah sangat baik , Hasan sudah menyampaikan kepada adik untuk berhijab karena itu memang kewajiban  sebagai kakak yang tahu ilmu untuk mendakwahkannya.Tinggal sekarang,sambil terus berusaha, perkuat dengan doa,pasrahkan pada Allah, memohon kepadaNya agar memberikan hidayah dan kemudahan untuk  adik hingga bisa menerima syariat hijab ini, sepenuhnya. Tuntunlah adik kamu dengan doa dan kesabaran..semoga Allah memudahkan ….

//


SavedURI :Show URL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s