artikel · motivasi · sastra

Asyiknya Ngajar TPA

Mbaaaak Aria, yang itu dicatat mbak?”, teriakan dari seorang anak, 2 meter di depanku.
”Iya.”, jawabku singkat.
”Mbak, yang Iqro’ nyatet juga kan?”, seorang anak mendekat dengan raut tanya.
”Nggak. Yang Qur’an aja.”
”Yaah..udah tak catet e mbak.” Jawabnya dengan wajah kecewa.
Ternyata jawabanku kurang tepat, kukira ia akan lebih senang jika tidak mencatat, ternyata..”Oh..ngga papa, kalo yang Iqro’ mau mencatat juga itu lebih baik.” Wajah mungil di samping kananku berubah cerah lalu kembali bermain berkumpul dengan teman-temannya.

”Mbak catatanku dibijih mbak, wis rampung ki.” seorang anak mendekat lagi.
”O..iya.” Jawabku sambil tak lupa tersenyum mentari.
”Aku juga Mbak.” Si kerudung hijau tak mau kalah.
”Nah, udah nih.”
”Mbak itu angka berapa e?”, satu suara lain bertanya.
”Angka delapan, piye to gitu aja nggak tau.” Jawab temannya.
Senyumku melebar.
”Yuk, mbak indri diterusin baca Iqro’nya.” Aku kembali menyimak seorang santri membaca Iqro’nya.
”Gembeng..gembeng..” Suara pertengkaran di sudut.
”Mbak Aria, indra nakal mbaak..” Suara lain.
”Aku dulu ..aku dulu to..Erin urik ki..wong tadi aku kok yang duduk di belakang indri.” Nah, yang ini rebutan giliran ngaji.
”Ayo..Mbak Erin sama Mbak Dian pingsut, yang menang ngaji duluan.” Aku turun tangan melerai.
Itulah dialog-dialog kecil kala aku mengajar TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) di sebuah masjid dekat kosku. Tak semua kata-kata, pertanyaan atau pertengkaran anak-anak itu bisa kutanggapi. Maklum aku mengajar hanya sendiri. Menghadapai 10 sampai 15 anak yang semuanya meminta perhatian tentu cukup merepotkan, tapi menyenangkan kok. Itulah yang membuatku betah mengajar TPA.

Tak terasa sudah hampir 6 tahun aku mengajar TPA. Tiga tahun pertama aku mengajar TPA di kosku yang lama. Kemudian aku pindah kos, kesukaanku bergaul dengan anak-anak membuatku kembali mengajar TPA di kosku berikutnya. Dan disinilah aku. Di sebuah masjid kecil dengan 10-15 orang anak usia TK-SD.

cerita sedikit tentang petualangku ^_^

Selepas SMU aku melanjutkan kuliah di kota pelajar. Singkat cerita hidayah Allah turun padaku, aku berhijrah dan mulai aktif di sebuah masjid dekat kosku. Kesukaanku pada anak-anak belum berubah, malah semakin bertambah karena aku menemukan sarana yang tepat menyalurkan kesukaanku pada anak-anak masjid itu.

Salah satu program Ramadhan 1421 H di masjid itu adalah menyelenggarakan TPA bagi anak-anak di sekitar lingkungan masjid. Jadilah aku salah satu pengajarnya. Untungnya orang tuaku mewajibkan anak-anaknya belajar membaca Al Qur’an sejak kami masih TK. Sampai SMU pun aku dan adik-adikku masih belajar membaca Al Qur’an. Orang tuaku bela-belain mendatangkan guru ngaji ke rumah kami 3x seminggu. Jadi aku cukup fasih membaca Al Qur’an. Gini-gini aku pernah diikutkan lomba MTQ oleh guru ngajiku. So..aku punya cukup kepercayaandiri untuk mengajar TPA.

Para wali santri TPA Ramadhan kami mengusulkan agar TPA tidak hanya diadakan saat Ramadhan tapi juga di bulan-bulan lain, 3x seminggu. Alhamdulillah Allah mudahkan tangan dan kaki kami, pada 11 Maret 2001 berdirilah TPA Masjid Nurussyam. Dengan jumlah ustadz-ustadzah 12 orang dan jumlah santri awal –di luar perkiraan kami—80 orang. Subhanallah..cukup banyak bukan? Yup, inilah jihad kami, dengan pengetahuan seadanya tentang mendidik anak, tentang Islam, tentang team work. Kami berasal dari daerah yang berbeda-beda, tentu saja latar belakang keluarga yang juga jauh berbeda, disiplin ilmu yang berbeda, ada yang di teknik, ekonomi, sosial, jurusan perhotelan dan -–untunglah—ada yang jurusan Pendidikan Agama Islam serta Ilmu syariah dari UIN Sunan Kalijaga. Seru bukan? Dua belas orang dengan latar belakang berbeda tapi dengan idealisme sama, ingin berbagi sedikit ilmu. Lumayan untuk menabung amal yang pahalanya takkan terputus meski kita telah tiada dengan cara mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Bukankah mengajarkan Al Qur’an itu sama dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat?

Begitulah..banyak ilmu yang kudapat dari mengajar TPA. Sebenarnya kalau dipikir-pikir bukan aku yang mengajar adik-adik di TPA tapi adik-adiklah yang banyak mengajarkanku banyak hal. Mereka mengajarkanku tentang kesabaran, mereka memaksaku beajar kreatif agar mereka tak bosan dengan apa yang kuajarkan, aku belajar tentang bagaimana berkomunikasi, bagaimana caranya agar adik-adik mengerti apa yang ingin kusampaikan dan melaksanakan hal-hal yang kuajarkan, aku belajar bagaimana cara mengelola kelas, aku belajar bagaimana menyusun kurikulum -–aku dipercaya duduk di tim kurikulum—yang sesuai untuk anak-anak. Aku belajar mendongeng, dan yang tak kalah penting aku belajar beroganisasi, belajar menerima perbedaan pendapat, belajar berlapangdada kala usulku diterima serta tetap rendah hati kala usulku diterima.

Tak terasa 3 tahun sudah aku di TPA Nurussyams. Memang semangatku juga mengalami pasang surut dalam mengajar TPA, tapi aku tak pernah benar-benar berhenti bergaul dengan anak-anak. Sampai tibalah hari itu, karena satu dan lain hal aku harus pindah kos ke daerah yang lebih dekat dengan kampusku. Sedih sih harus meninggalkan lingkungan yang telah begitu akrab denganku, namun apa hendak dikata. Aku berjanji dalam hati, aku takkan melupakan masjid monumental itu. Tempat pertama yang menyaksikan kehijrahanku.

Kos baruku juga tak jauh dari masjid, lebih kecil dari masjid Nurussyams. Di masjid itulah dialog-dialog di atas berlangsung, di TPA masjid Al Amin. Tapi aku tak lagi berduabelas orang mengajar TPA. Santrinya pun jauh lebih sedikit, hanya 10-15 anak. Aku sibuk menyusun kurikulum sendiri, tak lagi bertiga seperti di masjid Nurussyams. Menyusun jadwal pelajaran sendiri. Hari senin: menyimak Iqro’ dan Al Qur’an, belajar Tajwid bagi santri Al Qur’an dan do’a sehari-hari bagi santri Iqro’, selasa: menyimak Iqro’ dan Al Qur’an, menghafalkan surat-surat pendek, Kamis: menyimak Iqro’ dan Al Qur’an, permainan dan keterampilan. Ya, jadwalku mengajar adalah senin, selasa dan kamis. Agak aneh memang, karena jadwal TPA biasanya selang-seling sehar-sehari. Tapi bagaimana lagi, tinggal senin, selasa dan kamis sore jadwalku yang belum terisi agenda rutin. Karena aku mengajar hanya sendiri jadi jadwal TPA disesuaikan dengan jadwalku, Alhamdulillah anak-anak TPA tidak keberatan. Sayangnya aku belum bisa memenuhi idealnya sebuah TPA. Harusnya anak-anak diajarkan tentang ibadah-ibadah praktis, seperti sholat dan thoharoh. Juga diajarkan tentang akhlaq islami, diceritakan tentang kisah para Nabi dan syuhada, dan masih banyak lagi. Tapi apa daya, waktuku terbatas hanya 1,5 jam. Semoga aku semakin cakap mengelola waktu TPA hingga anak-anak TPA mendapatkan apa yang telah menjadi haknya, yaitu pengajaran dan pendidikan yang layak tentang agamanya.

Karakter santri TPA Al Amin jauh berbeda dengan santri TPA Nurussyams. Di Nurussyams anak-anaknya cenderung aktif, mereka tak malu-malu disuruh maju ke depan forum. Mereka sangat senang memeluk, menggelendot manja di lengan dan punggungku sebagai cara untuk menarik perhatianku. Bahkan tak jarang minta digendong. Pernah bajuku sampai robek karena tiga orang anak usia TK dan Pra TK berebut meminta digendong sekaligus dan tak ada yang mau mengalah. Jilbab putihku penuh coretan krayon atau spidol itu sudah biasa. Aku dan teman-teman akhirnya belajar dari pengalaman, jangan mengenakan jilbab atau baju berwarna cerah kala mengajar TPA ^_^. Sedangkan di TPA Al Amin anak-anaknya lebih pemalu, tak pernah mau jika disuruh berbicara di depan forum, mereka lebih cenderung penurut dan menarik perhatianku dengan cepat-cepat menulis apa yang kutulis di white board, lalu pekerjaan itu mereka tunjukkan padaku untuk di bijih (di beri nilai). Jangan sekali-kali memberi nilai di bawah 7 karena itu akan mengecewakan mereka, minimal kasih delapan deh.
Namun, ada persamaan antara TPA Nurussyams dan TPA Al Amin yaitu rame! Namanya anak-anak, mana ada yang bisa bertahan lebih dari 15 menit, mereka cepat merasa bosan. Aku pernah ikut training psikologi anak, kata trainernya, ”Anak-anak hanya bisa konsentrasi pada sesuatu hanya selama 1 menit dikalikan usianya. Jadi kalau usia seorang anak 10 tahun, ia bisa berkonsentrasi 10 menit saja. Kecuali..jika sesuatu itu begitu menarik perhatiannya”. Dari training itu aku semakin tertantang untuk lebih kreatif dalam menarik perhatian anak-anak lebih lama dari 1 menit dikalikan usianya.

Anyway, aku sebenarnya lebih senang jika anak-anak rame, aktif berlarian kesana kemari dan bermain dengan bermacam-macam permainan. Jika ada anak yang menyepi di sudut sendirian sementara teman-temannya aktif bermain, dugaanku anak tersebut memiliki hambatan dalan pertumbuhannya, baik mental maupun fisiknya. Entah ia lagi sakit atau kurang enak badan, atau mungkin habis dimarahi orang tuanya atau bertengkar dengan temannya. Pokoknya ada yang tidak beres dengan dirinya.

Aku bingung bagaimana mengakhiri tulisan ini ^_^. Bagaimana kalau kuakhiri dengan salam kenal untuk semua ustadz-ustadzah? Yang ikhlas membagi 1-2 jam waktunya untuk mengajar TPA. Dan sudilah kiranya berbagi cerita dan pengalaman denganku, agar aku tak merasa sendiri lagi kala sendirian mengajar dan belajar di TPA Al Amin.

//


SavedURI :Show URL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s