sastra

Akibat Melukai Hati Ibu

Oleh: Y.A.

Memang sudah lazimnya selepas sholat Idul Fitri, kita saling bermaaf-maafan agar menjadi pribadi yang fitrah layaknya seorang bayi yang baru lahir. Begitu pula dengan keluarga kami. Setelah selesai melaksanakan Shalat Id berjamaah, keluarga besar kami berkumpul di rumah. Ibuku adalah anak tertua dari 6 bersaudara. Sudah kaprahnya bila yang muda berkunjung ke rumah yang tua. Maka adik-adik ibu pun memboyong keluarganya untuk berkumpul di rumah kami.

Setelah bermaaf-maafan satu sama lainnya, kamipun makan ketupat bersama. Orang Minang memang sangat suka makan dengan dikuahi santan. Makanya aku dan ibu membuat gulai sayur paku dengan  santan yang cukup banyak. Ternyata itu tidak cukup, ketupat masih  saja tersisa. Saat itu, ibuku sedang melayani karib kerabat yang berdatangan. Kebetulan di dapur hanya aku dan bibi, maka aku menyarankan pada bibi untuk membuat gulai kembali. Namun bibiku mengatakan “Alah tu, liok bana urang beko” (“Sudah tu, bosan orang nanti”). Aku tidak kehilangan akal, segera aku membeli kuah sate yang tidak jauh dijual dari rumah kami.

Ketika aku pulang membawa kuah sate yang lumayan banyak, ibu pun memarahiku. Aku dikatakan sebagai “padusi palala” (wanita yang suka bepergian) oleh ibu. Ibu juga memarahiku karena malas membuat gulai dan mencari kesempatan untuk bepergian. Lantas, aku mengatakan pada ibu bahwa kuah sate yang aku beli supaya ketupat-ketupat yang bersisa tidak mubadzir. Namun ibu tetap saja memarahiku, aku dimaki-maki dengan perkataan yang cukup kasar. Mendengar  semua perkataan ibu, air mtaku langsung berjatuhan. Segera aku berlari menuju kamar dan membanting pintu dengan keras.

Karena masih menyimpan emosi, setiap ibu meminta bantuan aku selalu mengatakan “Kakok se surang, beko basalahan pulo urang baliak!” (“Lakukan aja sendiri, nanti disalahkan pula orang lagi”). Itu berlangsung cukup lama. Hampir satu minggu aku sering melontarkan kata-kata kasar pada ibu. Sesekali perang mulut antara aku dan ibu terjadi. Sudah berulangkali ayah menasihatiku untuk berkata lemah lembut pada ibu, namun hatiku masih enggan, semua nasihat ayah tidak kuhiraukan. Cacian dan makian ibu tetap saja terngiang-ngiang di telingaku.

Pernah suatu ketika adikku mengatakan “Uni, lapeh bulan puaso ko indak buliah bacakak-cakak do, bukannyo wak lah samo-samo bamaafan eh…” (“Kakak, selepas bulan puasa tidak boleh bertengkar do, bukannya kita sudah sama-sama bermaafan…”). Namun perkataan itu tidak aku gubris. Aku masih marah jika mengingat semua caci maki yang dilontarkan ibu kepadaku.

Karena pertengkaran kami, aku sering melihat ibu berdiam diri. Untuk memasak pun ibu sering melakukannya sendiri. Sepintas, aku merasa bersyukur tidak lagi disuruh ini itu oleh ibu. Tidak lagi aku dengar teriakan ibu saat meminta bantuan kepadaku. Aku merasa bebas, pekerjaan rumah yang biasa aku lakukan pindah tangan pada ibuku. Akupun tinggal makan, nonton dan tidur sepuas hatiku.

Sore itu, ibuku memasak gulai. Gulainya begitu harum dan mengundang selera makanku. Namun, karena teringat peristiwa seminggu yang lalu, aku pun enggan untuk menyantap gulai itu. Aku tahu menu makan malam saat itu adalah gulai. Makanya saat makan malam bersama, aku sengaja tidak ikut. Aku pun pergi keluar rumah membeli sebungkus nasi untuk makan malamku.

Entah kenapa, tengah malam perutku mendadak kelaparan. Padahal ba’da Isya tadi aku sudah makan nasi dengan porsi yang cukup banyak. Sesekali aku lepaskan laparku dengan minum air putih yang banyak. Namun ternyata itu hanya berlangsung sementara, akupun kembali merasa lapar. Kebetulan saat itu ayah, ibu dan adikku sudah tidur, maka aku putuskan untuk makan. Aku hidupkan pula televisi agar aku tidak merasa sendiri. Karena keasyikan menonton, aku tidak sadar jika aku sudah menelan tulang ikan. Sudah hampir 10 gelas aku meminum air putih, namun masih saja merasa tercekik.

Karena pekikanku, ayah dan ibu terbangun dan menanyakan apa yang terjadi. Akupun mengatakan dengan terbata-bata bahwasanya tulang ikan nyangkut di tenggorokanku. Spontan saja ibu menghubungi nenekku. Seingat ibu, adiknya juga pernah tercekik akibat tulang ikan sepertiku, namun nenek bisa mengobatinya. Nenek pun menyarankan untuk meminum air dengan sendok kayu. Namun tetap saja tulang ikan itu tidak berpindah ke tempat semula. Karena tidak ingin melihat aku kesakitan, ayah langsung memboyong aku ke puskesmas. Nihil! Perawat yang saat itu jaga malam juga tidak mampu mengobatiku, bahkan dia menyarankan agar aku segera ke rumah sakit untuk dirontgen.

Atas nama berobat ke rumah sakit, aku memang tidak mau! Apalagi harus menghirup bau obat yang membuat perutku mual. Ibu megetahui hal itu. Lalu ibu menghubungi pamannya. Kebetulan, paman ibu ini sering juga mengobati orang yang tercekik dan orang yang sering kesemutan. Kata paman ibu, aku disuruh minum air kobokan satu gelas penuh. Sreg! Mendengarnya saja aku sudah mau muntah, apalagi harus meminumnya. Ibu rupanya juga tidak tega mengobatiku sesuai saran pamannya. Ibu tidak kehilangan akal. Ibu menghubungi karib kerabat dan tetanggaku yang menurutnya bisa menyembuhkan penyakitku ini. Segala cara yang disarankan oleh mereka dilakukan ibu, namun nihil! Masih saja aku berada di keadaan yang sama. Aku lalu berontak karena perutku sudah kembung meminum beragam jenis air.

Ayah kembali menasihatiku untuk mengingat semua kesalahanku. Selama ini aku sudah sering menyakiti hati ibu. Ayahpun mengatakan “Ba’a ka ba’a inyo induak kau, kok salah keceknyo, antok sajo, jan dilawan! Kok tasakik hati inyo, lah ka jaleh se Tuhan berang! Ko buktinyo, alah bara banyak tetek bengek ubek dari tadi, nyatonyo apo? Indak juo do kan? Ujuang-ujuangnyo iyo baoperasi juo kau!” (“Bagaimanapun juga, dia ibumu, kalau perkataannya salah, diam saja, jangan dilawan! Kalau terluka hatinya, sudah jelas Tuhan marah! Ini buktinya, sudah berapa banyak obat yang kamu minum dari tadi, nyatanya apa? Enggak juga kan? Ujung-ujungnya dioperasi juga kamu!”)

“Ya Allah, ampuni aku. Aku sadar jika perkataanku sering menyakiti hati orang lain, terutama ibuku.  Jangan Engkau siksa aku seperti ini ya Allah…,” ucapku dalam hati sambil menangis.

Saat itu aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku coba melupakan kesakitan itu dengan tidur. Sejenak memang sakit itu terlupa, namun ketika sakit itu datang lagi, aku meringis. Spontan saja ibu menghampiriku dan mengatakan, “Nak, cubo kau minum aia putiah ko. Aia ko alah ibu do’akan, bacolah bismilah dulu, istighfar acok-acok, mudah-mudahan ditolong kau dek nan Kuaso….” (“Nak, coba kamu minum air putih ini. Air ini sudah ibu do’akan, bacalah bismillah dulu, istighfar berulang-ulang, mudah-mudahan Yang Kuasa menolongmu.”)

Dengan hati yang masih merasa bersalah, aku coba meminum air ini. Dalam hati aku haturkan do’a agar lekas terlepas dari penyakit ini. Selang beberapa menit setelah meminum air itu, aku merasa mual dan ingin muntah.  Sreg! Tulang yang tersangkut di tenggorokan tadi akhirnya bisa aku muntahkan. Setelah berkumur-kumur dan meneguk segelas air, akupun merasakan tenggorokanku sudah tidak sakit lagi. Langsung saja saat itu aku sujud dan meminta maaf pada ibu. Alhamdulillah ya Rabb. Dalam hati aku berjanji untuk menjaga perkataanku, lebih baik aku diam daripada melontarkan kata-kata yang kasar.

Sobat, semoga kisahku ini menjadi renungan bagi kita semua. Jangan sesekali perkataan kita menyakiti hati orangtua kita. Terutama ibu. Bagaimanapun juga, ibu sudah mempertarungkan nyawanya untuk kita. Hormati ibumu, jangan sampai laknat Allah mendekatimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s