iptek

Si Pencipta Zombie

Penggemar film horor pasti tak asing dengan sosok mayat hidup yang berjalan ke sana kemari memburu otak segar manusia. Ya, zombie! Dalam film horor, zombie berjalan tanpa tujuan, menerkam setiap manusia yang ditemui, dan melahap otak mereka.

Namun, zombie ternyata tak cuma ada di kalangan penggila cerita horor fiksi saja. Dunia serangga rupanya juga mengenal zombie! Adalah Ampulex compressa, atau yang terkenal dengan sebutan tawon permata (jewel wasp), yang ternyata mampu mengubah serangga, atau dalam hal ini sebetulnya kecoak, menjadi zombie hidup!

Sekilas Ampulex compressa tak terlihat berbahaya. Bagaimana tidak, lihat bentuk tubuh dan warnanya yang indah. Ramping, langsing, dengan lekukan yang tegas, ditambah semburat warna hijau metalik dan toska di sekujur tubuhnya, membuat serangga berhabitat di benua Afrika dan Eropa ini makin ayu saja.

Belum lagi ukuran tubuhnya yang cuma sekitar 2,5 cm, membuat kita seakan bertanya-tanya, masakan ia mampu melukai serangga lainnya? Namun rupa ternyata mampu menipu. Soalnya, tak seperti tawon-tawon lain yang bertelur di sarang kertas, tawon permata justru bertelur di tubuh mangsanya, yaitu kecoak!

Proses prokreasi kejam itu dimulai oleh tawon betina yang siap bertelur. Si betina akan terbang mencari kecoak-kecoak yang kurang beruntung, atau lebih malang lagi, menjebaknya di tempat-tempat tertentu. Saat si betina sudah menemukan kecoak buruannya, maka si betina akan menyuntikkan jarum di kepala kecoak, untuk melumpuhkan kaki depannya.

Setelah kecoak malang tersebut lumpuh, si betina akan menyuntikkan sebuah zat ke dalam otak kecoak. Dengan sensor yang ada di ujung jarum, si betina mampu menemukan bagian otak yang spesifik, dan menyemprotkan sejumlah neurotransmitter. Selesai melakukan operasi otak, si betina Ampulex compressa pergi untuk mencari liang kosong.

Bagaimana nasib si kecoak? Matikah ia? Tidak, kecoak itu masih hidup, dan sehat-sehat saja. Sayangnya, ia kini telah berubah menjadi zombie! Ia kehilangan kemauan dan koordinasi.

Satu setengah jam kemudian, si betina tawon permata pun kembali. Tanpa basa-basi, si betina langsung menggigit antena si kecoak dan menyedot cairan tubuh dari lukanya itu. Setelah puas menghisap cairan tubuh kecoak, ia pun langsung membawa si kecoak malang ke dalam liang yang telah ia temukan sebelumnya, bak domba yang akan dibawanya ke rumah jagal.

Sesampainya di liang, tibalah saat bagi si betina cantik langsung bertelur di bagian bawah perut kecoak malang buruannya itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, si betina langsung meninggalkan kecoak malang, beserta bakal anaknya itu di liang yang gelap.

Beberapa saat lamanya, telur-telur tersebut akan menetas dan mengeluarkan larva. Larva-larva tersebut akan memakan perut bagian bawah kecoak, masuk ke dalam tubuhnya, dan bertambah besar dengan memakan tubuh si kecoak.

Ingat, saat larva mulai memakan tubuh kecoak, si kecoak ini masih sehat dan bugar. Ia bisa saja mengibaskan larva dari tubuhnya dan berlari. Ia bisa, namun ia tidak mau. Ya, ia tidak mau. Si kecoak hanya terdiam, dan membiarkan larva tawon melahap habis tubuhnya, berkembang besar, hingga akhirnya pergi meninggalkan ‘inangnya’ itu tergeletak mati.

Menggunakan tubuh serangga lain sebagai wadah untuk berkembang biak memang terlihat kejam. Namun para peneliti takjub dengan cara Ampulex compressa menyihir korbannya menjadi zombie. Para peneliti menemukan, tawon serangga bukan hanya ahli operasi yang ulung, tapi juga memiliki cairan khusus yang bisa membuat korbannya jadi hidup tanpa kemauan. (National Geographic)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s