Apa yang dilakukan oleh Imam Nawawi saat runtuhnya Baghdad ?

 

Pada tahun 656 Hijriah, terjadi sebuah musibah hebat yang melanda umat Islam. Pada saat itu, Baghdad yang menjadi pusat peradaban Islam dan dunia diserang oleh Bangsa Tartar dengan sangat hebat. Pasca penyerangan itu khalifah terbunuh dan Baghdad pun jatuh. Ibnu Katsir mengatakan: Sesungguhnya kejatuhan Baghdad merupakan musibah paling dahsyat yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia dan bahkan lebih dahsyat dari musibah banjir Nabi Nuh. Sebuah sumber menyebutkan sekitar 1 juta orang tewas terbunuh pada saat itu. Sebuah penghancuran yang belum pernah dirasakan oleh umat Islam sebelumnya.

Pada saat itu, Imam Nawawi masih sangat muda. Umurnya sekitar 25 tahun. Apakah yang beliau lakukan tatkala mendengar peristiwa hebat tersebut? Apakah beliau langsung pergi berjihad ke Iraq dan melakukan perlawanan berperang melawan bangsa Tartar?

Pehatikanlah sikap beliau! Inilah sikap yang harus diambil oleh para pemuda zaman ini.

Pada saat itu beliau tidak langsung menumpahkan emosi beliau dengan pergi berjihad ke Baghdad dan melakukan perlawanan karena itu sangat sulit. Bahkan belum sampai Baghdad pun pasti beliau sudah dibunuh terlebih dahulu di tengah jalan.

Pada saat itu, Imam Nawawi tentunya merasakan sakit dan perih yang sangat hebat. Rasa sakit tersebut beliau ubah menjadi semangat dan tekad yang kuat untuk belajar, mengkaji ilmu, dan menuliskannya hingga dalam satu hari beliau mengkaji 12 cabang ilmu yang berbeda.

Akibat ‘perlawanan’ yang beliau berikan, umat Islam bisa mengambil manfaat dari karya-karya beliau tersebut hingga saat ini. Jadi seolah-olah ilmu yang dibuang oleh Bangsa Tartar itu terkumpulkan kembali melalui tangan beliau.

Syekh Usamah Sayyid Al-Azhari

Konsep Ghaddhul Bashar ( Menundukkan Pandangan)

 

Ghaddhul Bashar adalah salah satu sifat dan adab yang luar biasa yang dimiliki oleh seseorang anak manusia, selain ini adalah perintah Allah (Annur: 30-31), dia juga akan memberi efek positif bagi pelakunya.

Ghaddhul Bashar itu artinya menjaga pandangan terhadap hal-hal yang tidak boleh dipandang, dalam memahami konteks “ghaddhul bashar”, sering terjadi salah kaprah, sampai ada sebagian orang yang mengatakan, “Terus, kalau jalan kita kudu lihat ke tanah? nggak boleh lihat ke depan, karena akan melihat cewek!kayak orang nyari recehan jatuh aja!”. Di lain sisi, ada yang memahami ghaddhul bashar itu adalah perasaan dalam hati, “Lihat aja, asal nggak dimasukin hati dan nggak dibawa mimpi!”.

Dua-duanya salah, sama-sama terlalu berlebihan dan terlalu lebay. Seorang Ulama, kalau ane nggak salah beliau adalah Imam Qadhy Iyadh, mengatakan, “Seandainya semua wanita telanjang di jalanan, tetap saja laki-laki wajib menjaga pandangan”. Itu artinya, tidak ada toleransi “Lihat saja, asal nggak masuk dalam hati dan nggak dibawa mimpi”.

Terus kita jalan lihat ke tanah? tidak juga, dalam sebuah hadis Rasulullah mengajarkan sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Pandangan pertama tidak masalah, selanjutnya dosa”. Artinya, ketika kita berjalan di jalanan seperti biasa, tentunya lihat kiri-kanan biar tidak nabrak tiang, tanpa sengaja melihat cewek cantik, “tanpa sengaja melihat” itu tidak masalah, yang jadi masalah diterusin.

Sekarang, apa solusinya? aku jalan ke kampus, lihat ke atas ada poster cewek, lihat ke bawah banyak penjual majalah di trotoar jalan, lihat ke depan…apalagi! Buka FB, isinya cewek semua!

Ya, itu tantangan karena kamu lahir di akhir zaman, dan Insya Allah pahalamu akan lebih besar karena perjuanganmu melaksanakan perintah Tuhan lebih berat, lakukan semampumu, kawan…”Ya Allah…inilah kemampuanku melaksanakan perintah-Mu, kuatkanlah aku, janganlah Kau siksa aku diluar batas kemampuanku….”.

10 Ilmuwan Paling Gila di Muka Bumi

 

Mereka dikenal karena otaknya genius, temuannya yang berpengaruh pada dunia. Selain itu mereka juga populer karena nyentrik, agak gila, dan penuh kontroversi. Siapa sajakah mereka? Berikut 10 ilmuwan paling gila menurut LiveScience.com
1. Albert Einstein
Parodi kartun dan komik tentang Einstein banyak dibuat hingga masa kini. Mulai dari rambutnya yang amburadul atau ekspresi wajahnya yang dibuat “melet” atau teorinya sekalipun. Tak bisa dibantah penemu teori relativitas ini sudah jadi selebriti dunia sains. Namanya bahkan identik dengan kata genius dan gila itu sendiri.
2. Leonardo da Vinci
Menyusul popularitas Einstein adalah Leonardo da Vinci. Novel Da Vinci Code, tokoh komik, isu bahwa ia gay adalah bukti bahwa seniman dan ilmuwan Italia ini memang sangat terkenal. Ia juga diketahui sangat nyentrik. Peninggalannya berupa tumpukan buku sketsa, aneka aplikasi teknologi, mesin, tetap abadi sepanjang masa.
3. Nikola Tesla
Kalau yang ini, namanya sempat dikenal sebagai sebuah kelompok musik rock. Sebenarnya sesuai, sebab penemu radio nirkabel dan generator AC inilah yang memulai era elektrik di akhir abad ke-19 dan awal abad 20. Tesla dianggap gila sebab berani mendemonstrasikan bagaimana ia memakai tubuhnya sebagai konduktor listrik.
4. James Lovelock
Dikenal sebagai ilmuwan berwawasan lingkungan dan penemu hipotesa Gaia. Konsep perubahan iklim yang kini diributkan banyak orang sudah diusungnya sejak beberapa dekade silam. Lelaki kelahiran 1919 ini pernah memprediksikan bahwa tahun 2100 akan terjadi kematian massal terhadap 80 persen umat manusia. Wow! Akan terbukti jugakah?
5. Jack Parsons
Jack Parsons dikenal sebagai salah satu pendiri Jet Propulsion Laboratory. Tapi sesungguhnya ia juga sibuk berlatih sulap dan menyebut dirinya Antikris. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi mampu mengembangkan bahan bakar roket dan sukses mengantarkan Amerika Serikat ke angkasa pada Perang Dunia II. Tragisnya, Parsons menembak dirinya sendiri sampai mati di laboratoriumnya tahun 1952.
6. Richard Feynman
Ia adalah bagian dari tim genius pengembang bom atom. Feynman menjadi salah satu ilmuwan terpenting di akhir abad ke-20. Selain dikenal sebagai profesor, ia juga suka mengeksplorasi musik, alam dan mempelajari hiroglif suku Maya.
7. Freeman Dyson
Tahun 1960, Dyson menelurkan ide bahwa di masa depan manusia harus mendesain cangkang buatan yang dinamakan Dyson Sphere. Cangkang ini akan mengelilingi sistem tata surya dan menggunakan energi matahari secara maksimum. Saat itu ia dianggap sebagai pemimpi fiksi ilmiah. Ia juga yakin adanya kehidupan di planet lain. Menurutnya manusia akan berinteraksi dengan mahluk angkasa luar dalam beberapa dekade mendatang.
8. Robert Oppenheimer
Dijuluki sebagai bapak bom atom, lelaki kelahiran 1904 ini juga memiliki pandangan politik sosialis. Ia punya ketertarikan khusus pada kultur Hindu dan bahasa Sansekerta dan Belanda. Oppie, begitu pangilan akrabnya, senang mengutip kitab Bhagavad Gita.
9. Wernher von Braun
Di usia 12 tahun, Braun meledakkan gudang mainannya dengan kembang api. Dari situlah muncul ide mengembangkan roket. Akhirnya ia ditunjuk sebagai pempimpin program roket oleh Hitler. Ternyata ia juga meminati eksplorasi bulan dan antariksa. Di sela waktu luangnya Braun juga senang membaca filsafat dan sesekali bermain scuba diving.
10. Johann Konrad Dippel
Lahir dan besar di kastil Frankenstein, Jerman, Dippel dikenal sebagai penemu bahan kimia sintetis bernama Prussian Blue. Ia mengklaim pernah menciptakan cairan hidup abadi. Kabarnya, percobaannya itu terinspirasi oleh karakter yangs esuai dengan nama kastil tempat ia lahir, Franskenstein.
Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience.com
Written By : Merry Magdalena di NetSains.com

10 Nama-Nama Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

 

Sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYADH ANNADHIRAH FI MANAQIBIL ASYARAH“ dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi SAW bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”
Kisah singkat 10 Sahabat
1. Abu Bakar bin Abi Qahafah (As siddiq), adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, pengaruhnya besar serta memiliki akhlaq yang mulia. Sebelum datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.
“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat niscaya akan lebih berat keimanan Abu Bakar. ”(HR. Al Baihaqi)
Al Qur’an pun banyak mengisyaratkan sikap dan tindakannya seperti yang dikatakan dalam firmanNya, QS Al Lail 5-7, 17-21, Fushilat 30, At Taubah 40. Dalam masa yang singkat sebagai Khalifah, Abu Bakar telah banyak memperbarui kehidupan kaum muslimin, memerangi nabi palsu, dan kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat. Pada masa pemerintahannya pulalah penulisan AlQur’an dalam lembaran-lembaran dimulai.
2. Umar Ibnul Khattab, ia berasal dari kabilah yang sama dengan Rasulullah SAW dan masih satu kakek yakni Ka’ab bin Luai. Umar masuk Islam setelah bertemu dengan adiknya Fatimah daan suami adiknya Said bin Zaid pada tahun keenam kenabian dan sebelum Umar telah ada 39 orang lelaki dan 26 wanita yang masuk Islam. Di kaumnya Umar dikenal sebagai seorang yang pandai berdiskusi, berdialog, memecahkan permasalahan serta bertempramen kasar. Setelah Umar masuk Islam, da’wah kemudian dilakukan secara terang-terangan, begitupun di saat hijrah, Umar adalah segelintir orang yang berhijrah dengan terang-terangan. Ia sengaja berangkat pada siang hari dan melewati gerombolan Quraisy. Ketika melewati mereka, Umar berkata, ”Aku akan meninggalkan Mekah dan menuju Madinah. Siapa yang ingin menjadikan ibunya kehilangan putranya atau ingin anaknya menjadi yatim, silakan menghadang aku di belakang lembah ini!” Mendengar perkataan Umar tak seorangpun yang berani membuntuti apalagi mencegah Umar. Banyak pendapat Umar yang dibenarkan oleh Allah dengan menurunkan firmanNya seperti saat peristiwa kematian Abdullah bin Ubay (QS 9:84), ataupun saat penentuan perlakuan terhadap tawanan saat perang Badar, pendapat Umar dibenarkan Allah dengan turunnya ayat 67 surat Al Anfal.
Sebagai khalifah, Umar adalah seorang yang sangat memperhatikan kesejahteraan ummatnya, sampai setiap malam ia berkeliling khawatir masih ada yang belum terpenuhi kebutuhannya, serta kekuasaan Islam pun semakin meluas keluar jazirah Arab.
3. Utsman bin Affan, sebuah Hadits yang menggambarkan pribadi Utsman : “Orang yang paling kasih sayang diantara ummatku adalah Abu Bakar, dan paling teguh dalam menjaga ajaran Allah adalah Umar, dan yang paling bersifat pemalu adalah Utsman. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, At Tirmidzi) Utsman adalah seorang yang sangat dermawan, dalam sebuah persiapan pasukan pernah Utsman yang membiayainya seorang diri. Setelah kaum muslimin hijrah, saat kesulitan air, Utsmanlah yang membeli sumur dari seorang Yahudi untuk kepentingan kaum muslimin. Pada masa kepemimpinannya Utsman merintis penulisan Al Qur’an dalam bentuk mushaf, dari lembaran-lembaran yang mulai ditulis pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar.
4. Sahabat berikutnya adalah Ali bin Abi Thalib, pemuda pertama yang masuk Islam, ia yang menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya saat beliau hijrah, Ali yang dinikahkan oleh Rasulullah dengan putri kesayangannya Fatimah, Ali yang sangat sederhana kehidupannya.
5. Sahabat kelima yang  dijamin oleh Rasulullah SAW masuk surga adalah Thalhah bin Ubaidillah yang pada Uhud terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah serta jari tangannya putus. Namun Thalhah yang berperawakan kekar serta sangat kuat inilah yang melindungi Rasulullah disaat saat genting, beliau memapah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah menaiki bukit Uhud yang berada di ujung medan pertempuran saat kaum musyrikin pergi meninggalkan medan peperangan karena mengira Rasulullah telah wafat. Saat itu Thalhah berkata kepada Rasulullah, ”Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah dan ibuku.” Nabi tersenyum seraya berkata, ”Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Sejak itu Beliau mendapat julukan Burung Elang hari Uhud. Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya, ”Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa yang senang melihat seorang yang syahid berjalan di muka bumi maka lihatlah Thalhah.”
6. Azzubair bin Awwam, sahabat yang berikutnya, adalah sahabat karib dari Thalhah. Beliau muslim pada usia lima belas tahun dan hjrah pada usia delapan belas tahun, dengan siksaan yang ia terima dari pamannya sendiri. Kepahlawanan Azzubair ibnul Awwam pertama terlihat dalam Badar saat ia berhadapan dengan Ubaidah bin Said Ibnul Ash. Azzubair ibnul Awwam berhasil menombak kedua matanya sehingga akhirnya ia tersungkur tak bergerak lagi, hal ini membuat pasukan Quraisy ketakutan.
Rasulullah sangat mencintai Azzubair ibnul Awwam beliau pernah bersabda, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam.” Azzubair ibnul Awwam adalah suami Asma binti Abu Bakar yang mengantarkan makanan pada Rasul saat beliau hijrah bersama ayahnya. Pada masa pemerintahan Umar, saat panglima perang menghadapi tentara Romawi di Mesir Amr bin Ash meminta bala bantuan pada Amirul Mu’minin, Umar mengirimkan empat ribu prajurit yang dipimpin oleh empat orang komandan, dan ia menulis surat yang isinya, ”Aku mengirim empat ribu prajurit bala bantuan yang dipimpin empat orang sahabat terkemuka dan masing-masing bernilai seribu orang. Tahukah anda siapa empat orang komandan itu? Mereka adalah Ubadah ibnu Assamit, Almiqdaad ibnul Aswad, Maslamah bin Mukhalid, dan Azzubair bin Awwam.” Demikianlah dengan izin Allah, pasukan kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.
7. Adalah Abdurrahman bin Auf, yang disebutkan berikutnya, adalah seorang pedagang yang sukses, namun saat berhijrah ia meninggalkan semua harta yang telah ia usahakan sekian lama. Namun saat telah di Madinahpun beliau kembali menjadi seorang yang kaya raya, dan saat beliau meninggal, wasiat beliau adalah agar setiap peserta perang Badar yang masih hidup mendapat empat ratus dinar, sedang yang masih hidup saat itu sekitar seratus orang, termasuk Ali dan Utsman. Beliaupun berwasiat agar sebagian hartanya diberikan kepada ummahatul muslimin, sehingga Aisyah berdoa: “Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”
8. Sahabat yang disebutkan berikutnya adalah Saad bin Abi Waqqash, orang pertama yang terkena panah fisabilillah, seorang yang keislamannya sangat dikecam oleh ibunya, namun tetap tabah, dan kukuh pada keislamannya.
9. Said bin Zaid, adik ipar Umar, adalah orang yang dididik oleh seorang ayah yang beroleh bihayah Islam tanpa melalui kitab atau nabi mereka seperti halnya Salman Al Farisi, dan Abu Dzar Al Ghifari. Banyak orang yang lemah berkumpul di rumah mereka untuk memperoleh ketenteraman dan keamanan, serta penghilang rasa lapar, karena Said adalah seorang sahabat yang dermawan dan murah tangan.
10. Nama terakhir yang meraih jaminan surga adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, yang akhirnya terpaksa membunuh ayahnya saat Badar, sehingga Allah menurunkan QS Al Mujadilah : 22. Begitupun dalam perang Uhud, Abu Ubaidahlah yang mencabut besi tajam yang menempel pada kedua rahang Rasulullah, dan dengan begitu beliau rela kehilangan giginya. Abu Ubaidah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai pemegang amanat ummat, seperti dalam sabda beliau : “Tiap-tiap ummat ada orang pemegang amanat, dan pemegang amanat ummat ini adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah.”

Be a Positive Muslim!

 

Be a Positive Muslim!

Seorang positive muslim adalah orang yang memiliki keikhlasan, berbudi tinggi, berdisiplin, berbadan sehat dan berpikiran terbuka. Orang seperti ini selalu saja terdepan dan menjadi teladan bagi orang lain. Lima sifat yang apabila terkumpul dalam diri seseorang akan melahirkan sebuah kepribadian yang luar biasa, dia tidak akan menjadi kepribadian yang memberi contoh, tetapi sebuah pribadi yang menjadi contoh.

Kita tidak usah muluk-muluk dengan pembagian filosofis sifat dan watak manusia, kita lihat saja kepribadian-kepribadian yang ada di sekeliling kita, ada dua macam manusia. Manusia yang selalu berpikiran positif, penuh confidence, dan selalu optimis, manusia kedua yang selalu melihat sisi gelap dari kehidupan, pesimis dan tidak berani menatap matahari.

Banyak ayat dan hadis yang menyuruh kita untuk selalu berpikir positif dan optimis dalam hidup, semua ayat-ayat tawakkal adalah anjuran untuk berpikiran positif dan optimis dalam hidup. Dengan seabrek tuntunan dalam kitab dan sunnah, maka tidak sepantasnya seorang muslim itu menjadi pribadi yang minder dan pesimis. Dalam al quran allah mengatakan bahwa putus asa adalah sifat orang-orang sesat (al hijr 56).

Selalu melihat sisi positif dari dari kehidupan sangat penting untuk membentuk pribadi positive muslim, contoh saja ketika anda berdoa untuk meraih sesuatu, dan ternyata setelah berusaha dan berdoa, anda belum berhasil mendapatkan tujuan anda, “orang yang sesat” akan berhenti berusaha dan marah kepada Tuhan yang telah “mengingkari” janjiNyA, tetapi seorang positive muslim akan berpikir lain, dia akan mengatakan:

1. Ada hikmah lain di sana,
2. Kurang maksimalnya usaha saya,
3. Allah menunda harapan saya, dan akan di balas dengan sesuatu yang lain yang pasti much better!,
4. Cobaan agar saya lebih berpengalaman,
5. Ujian keimanan, apakah Iman saya batu karang yang tahan diterpa ombak, atau cuma koran pembungkus kacang rebus yang basah…

Rasanya aneh, seorang hamba Allah yang selalu salat dan memiliki hubungan dengan Penciptanya, tetapi tidak bisa merasakan kebahagiaan dan hidup, mau senyum saja seakan berat sekali, setengah terpaksa. Padahal banyak sekali hal-hal yang bisa membuat batin kita bahagia, duduk 5 menit di masjid setelah salat untuk curhat kepada Allah akan meringankan beban batin, mengingat bahwa Allah itu Tuhan kita yang maha pengasih dan penyayang, tidak mengkin Dia akan menerlantarkan kita selama kita masih mau bergantung padaNya, dan apa yang kita rasakan baik suka maupun duka pasti ada balasannya, mengingat keindahan cipataan dan nikmat Allah pada kita dan mengigat semua musibah yang tertimpa kepada orang lain dan Allah telah menghindarkan kita dari itu semua, mencoba melupakan semua hal-hal negatif dan gelap yang terjadi dan selalu berpikir positif. Semua itu akan mencurahkan kebahagiaan kedalam hati kita, coba saja kalau tidak percaya!

Seorang yang baru belajar mengemudi mobil kadang-kadang berpikir bagaimana kalau tiba-tiba ada truk menabrak saya, atau saya menabrak orang tua yang menyebrang jalan, seorang wanita takut kawin karena banyak pasangan yang bercerai, semua pikiran negatif begitu penghambat kita untuk maju, berapa banyak kecelakaan yang terjadi di jalan? Seandainya pikiran negatif tidak terlintas dalam pikiran kita, kita bisa fokus untuk menyetir mobil dan menghindari kecelakaan, berapa pasangan yang bercerai dan berapa pasangan yang setia sampai menjadi kakek dan nenek? Saya kira sisi positifnya jauh lebih banyak dari pada sisi negatifnya.

Sebagian lagi “berlari” di belakang uang untuk mencari kebahagiaan, siang malam dia sibuk mengumpulkan uang, entah kapan mau menikmati hidup. Anehnya lagi, kasus bunuh diri banyak terjadi di Negara-negara maju, apa kata orang yang hidup di tengah hutan afrika yang tidak pernah bergelimang harta? Mereka tidak bunuh diri, tetapi orang-orang di Negara maju dan berkembang yang hidup bergelimang harta malah bunuh diri. Dari fenomena ini kita bisa tahu bahwa di sana ada kesalahan dan pola berpikir, dan harta bukan mutlak sumber kebahagiaan. Jadi kita butuh balancing dalam hidup, akhirat adalah tujuan, tetapi media dan jalan ke akhirat adalah dunia.

Kita harus selalu berusaha melihat sisi positif dari semua hal, apabila terlintas pikiran negatif, langsung kita ubah menjadi positif. Misalnya begini, suatu ketika kita diminta untuk menyapaikan sambutan dalam sebuah acara, mungkin akan terlintas pikiran negatif yang kita bayangkan dan kita ciptakan sendiri, ” aku pasti nggak bisa, aku pasti keringetan, bagaimana kalau teks yang aku pegang jatuh karena aku gemetar, nanti ada bapak Fulan di sana, bagaimana……..”, pikiran ini yang saya jamin akan membuat kita gagal dalam misi memberi sambutan. Alangkah indahnya kalau kita berfikiran, ” ini kesempatanku untuk tahu kelemahanku dalam berpidato, ini kesempatanku muncul di depan umum, ini kesempatanku untuk mendapat beberapa teguran dari bapak Fulan supaya penampilanku selanjutnya lebih baik,….”.

Untuk menjadi positive muslim, kita harus selalu berpikiran terbuka dan komprehensif, tidak hanya terpaku pada apa “katanya”, “kata orang”. Misalnya dalam mengartikan “kesuksesan”, hampir semua orang berpikir bahwa sukses adalah bisa mengumpulkan uang banyak, memiliki popularitas dan jabatan luar biasa dan berkuasa penuh. Padahal dalam agama kita bukan itu yang namanya sukses, kesuksesan yang kita raih tidak bisa membuat kita meraih kesuksesan akhirat adalah kesuksesan kecil, semu dan sementara, karena dunia ini memang kecil dan hanya sementara, silahkan hidup dan kumpulkan kekuasaan, popularitas dan harta sebanyak mungkin, tapi ingat suatu hari anda akan mati dan hanya membawa kain kafan. Kesuksesan yang sebenarnya adalah Harta + Jabatan + Popularitas = Amal Saleh.

Karakteristik pemikiran Positive Muslim

Karakteristik ini dimiliki oleh semua orang di semua belahan dunia, hanya saja seorang muslim tetap memiliki kelebihan, dan yang paling jelas adalah perbedaan sandaran dan tujuan, sandaran dan tujuan kita adalah Allah, melalui tuntunan kitab dan sunnah.
Permasalahan ada dalam kemauan

Yang harus kita tanam dalam diri kita adalah kemauan dan tekad yang kuat, sekarang permasalahannya bukan kemampuan melakukan, tetapi kemauan untuk itu, kita mau atau tidak, kalau kita mau pasti kita akan mampu, insyallah. Hanya sedikit perbedaan antara orang positif dan negatif di sini, orang negatif mengatakan, ” Itu mungkin, tapi susah”, sedangkan orang positif akan mengatakan, ” Itu susah, tapi mungkin”. Kita sering menutup kenyataan indah dengan pikiran negatif kita, kita menganggap diri kita lemah, padahal tidak demikian, kita mampu, cuma kita tidak mau.
Diri kita sendiri sumber masalah

Kalau kita malas itu artinya problem ada dalam diri kita sendiri, jadi selalu introspeksi diri apabila terjadi kegagalan atau belum mendapatkan tujuan. Jadi, apabila terjadi kegagalan maka bisa dipastikan hampir semua unsur kegagalan itu ada di tangan kita sendiri.

Memang ada unsur luar, mungkin keluarga, teman atau tetangga, namun mereka bukan unsur utama, mereka hanya pelengkap saja. Seorang pegawai mengeluh karena atasannya dhalim karena sering memarahinya, sedangkan pegawai lain tidak pernah mengeluhkan hal itu, di sini pasti ada kesalahan dalam menyikapi masalah, mungkin saja pegawai itu malas, banyak bicara tidak pernah kerja dengan baik, sehingga atasannya memarahinya, dan dia menyikapi kemarahan itu adalah sebuah kedhaliman, seandainya ketika dimarahi dia introspeksi diri, maka problem solved, and mission completed.
Menang atas diri sendiri

Perang yang sebenarnya dan paling besar adalah perang melawan diri sendiri, untuk menjadi positif muslim, seseorang itu harus mampu melawan dirinya sendiri, melawan nafsunya, melawan malasnya, dan melawan semuanya sifat dan pikiran negatif yang bersarang dalam kepalanya.
Harta bukan sumber masalah

Harta dan kelemahan ekonomi bukan masalah utama yang bisa menggagalkan semua, dia buka problematika yang tidak ada solusinya, ada yang mengatakan, ” Laki-laki yang membuat uang, uang tidak akan membuat laki-laki”.

Banyak orang yang hidup susah dan menderita di awalnya, tetapi dengan tekad dan kemauan dia menjadi besar. Perang dunia kedua menghancurkan habis Negara Jerman, tetapi rakyat Jerman punya prinsip hidup, tekad baja, pemikiran positif, meskipun Negara mereka hancur, namun sifat-sifat itu tetap ada dalam hati mereka. Dan nyatanya, 12 tahun kemudian Jerman kembali muncul di panggung dunia sebagai raksasa teknologi, mereka membangun Jerman dengan prinsip hidup, tekad baja, pemikiran positif di bawah redupnya cahaya lilin. Mereka berpikir, “Kalau saya tidak membangun Negara saya, siapa lagi?”.
Tahu diri

Seorang positif muslim akan selalu berusaha mengenali dirinya sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahannya. Titik kelemahan dan kelebihan kita tidak terlihat, dia tersembunyi, oleh karena itu harus selalu introspeksi dan mengekplorasi kelebihan kita untuk selanjutnya bisa kita eksploitasi semaksimal mungkin.

Kadang-kadang seseorang itu memiliki banyak kelebihan dan keahlian dalam leadership, dan dia menyadari itu, hanya saja dia emosian dan cepat marah, tapi dia tidak menyadarinya. Kelebihan tadi tidak bisa dieksploitasi secara maksimal, karena ada sedikit kelemahan yang tidak disadarinya. Sifat pemarah ini menjadi penghambat dia untuk manjadi seorang pemimpin, baik dalam kadar besar maupun kecil.

Salah satu kelebihan yang bisa menjadi sumber kekuatan adalah sifat tawadhu ( rendah hati, bukan rendah diri), orang yang tawadhu itu bisa merangkul orang yang lebih tua, yang lebih kecil, yang lebih kuat, semua orang akan tertarik dengan kepribadian begitu, meskipun mereka tahu bahwa orang tersebut tidak memiliki banyak kelebihan, hanya orang biasa saja, tapi dia penuh ketawadhuan dalam bergaul.

Sifat tawadhu ini sangat menguntungkan, antara lain dengan sifat itu dia akan menerima setiap masukan dari orang lain dan selalu siap menerima manfaat dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki orang lain, berbeda dengan orang yang sombong, dia tidak mau menerima dari yang lebih kecil, yang lebih lemah ataupun dari orang yang memiliki clash dengannya dalam masalah pribadi. Makanya dikatakan, “Dua orang yang tidak mungkin bisa pintar, yaitu orang malas dan orang sombong”.

Membentuk watak dan jati diri jauh lebih susah dari pada membangun jembatan gantung dan gedung-gedung tinggi. Negara boleh saja hancur, rata dengan tanah, tetapi kepribadian yang dimiliki rakyat tidak akan hancur.

Penulis: Saief Alemdar

Salim Maula Abu Hudzaifah (Pengemban al-Qur’an yang Paling Beruntung)

Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada para shahabat, “Ambillah oleh al-Qur’an dari empat orang, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal.

Salim Maula Abu Hudzaifah, adalah mantan budak Abu Hudzaifah. Pada mulanya ia hanyalah seorang budak, kemudian Islam memperbaiki kedudukannya. Ia diangkat sebagai anak oleh salah seorang pemimpin Islam terkemuka, yang masuk Islam lebih dahulu dan merupakan seorang bangsawan dan pemimpin Quraisy.

Ketika Islam menghapus tradisi memungut anak angkat, Salim pun menjadi saudaram sahabat karibm serta budak yang telah dimerdekakan bagi Abu Hudzaifah bin Utbah. Berkat karunia dan nikmat dari Allah, Salim mencapai keududukan tinggi dan terhormat di kalangan kaum muslimin, karena keutamaan jiwanya, tingkah lakum dan ketakwaannya.

Sahabat Rasulullah yang mulia ini dipanggil Salim Maula Abu Hudzaifah karena dulunya ia seorang budak dan kemudian dimerdekakan. Ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa menunggu lama dan mengambil tempatnya di antara orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Hudzaifah bin Utbah sendiri merupakan sosok lebih awal dan bersegera masuk Islam yang pada waktu itu menyebabkan ayahnya Utbah bin Rabi’ah murka dan kecewa, sehingga ketenangan hidup ayahnya itu menjadi keruh karena keislaman putranya itu. Hudzaifah memang seorang yang terpandang di kalangan kaumnya dan pada waktu itu, ayahnya mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin Quraisy.

Setelah dimerdekakan, Salim diangkat menjadi anak oleh Hudzaifah yang telah memeluk Islam sehingga waktu itu ia dipanggil Salim bin Abu Hudzaifah. Kedua orang itu pun beribadah kepada Allah dengan hati yang tunduk dan khusyuk, serta tabah terhadap penganiayaan Quraisy dan tipu muslihat mereka.

Suatu hari turunlah ayat yang membatalkan tradisi mengambil anak angkat. Dengan demikian, setiap anak angkat dinasabkan kepada nama ayah biologisnya. Contohnya, Zaid bin Haritsah yang diangkat anak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dikenal oleh kaum muslimin dengan panggilan Zaid bin Muhammad. Ia kembali dinasabkan kepada nama ayah kandungnya, sehingga namanya menjadi Zaid bin Haritsah. Tetapi, Salim tidak dikenal siapa ayahnya, sehingga ia menghubungkan diri kepada orang yang telah membebaskannya hingga dipanggil Salim Maula Abu Hudzaifah.

Ketika Islam menghapus tradisi penisbatan nama anak angka ke nama orang yang mengangkatnya. Mungkin bertujuan untuk menyatakan kepada kaum muslimin agar mereka jangan mencari hubungan kekeluargaan dan silaturrahim yang mengakibatkan persaudaraan mereka lebih kuat daripada persaudaraan karena iman itu sendiri dan akidah yang menjadikan mereka bersaudara.

Hal ini telah dipahami dengan baik oleh kaum muslimin generasi awal. Tidak ada suatu pun yang lebih mereka cintai setelah Allah dan Rasul-Nya selain saudara-saudara mereka sesama muslim yang menyembah Allah Yang Maha Esa. Kita saksikan bagaimana orang-orang Anshar menyambut saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin, hingga mereka membagi tempat kediaman dan segala yang mereka miliki.

Inilah yang kita saksikan dan terjadi antara Abu Hudzaifah, bangsawan Quraisy, dengan Salim yang berasal dari budak dan tidak diketahui siapa ayahnya. Sampai akhir hayat, kedua orang itu bersaudara lebih daripada kasih sayang saudara kandung. Ketika menemui ajal, mereka meninggal bersama-sama, dan tubuh yang satu terbaring bersebelahan dengan tubuh yang lain.

Itulah dia keistimewaan luar biasa dari Islam, bahkan itulah salah satu kebesaran dan keutamaannya.

Salim telah beriman dengan sungguh-sungguh dan menempuh jalan menuju Allah bersama orang-orang yang bertaqwa. Ia memiliki kedudukan dan tempat di hati setiap orang pada masa itu. Karena berkat ketakwaan dan keikhlasannya, ia telah mengangkat dirinya ke taraf yang tinggi dalam kehidupan masyarakat baru, masyarakat yang dibangin oleh Islam berdasarkan prinsip yang adil dan luhur. Sebagaimana firman Allah ta’alaa,

Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al-Hujurat: 13).

Selain itu, ditambah dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tiada kelebihan bagi bangsa Arab atas bangsa non-Arab kecuali takwa, dan tidak ada kelebihan bagi seorang keturunan kulit putih atas seorang keturunan kulit hitam kecuali takwa.

Pada peradaban baru yang maju ini, Abu Hudzaifah merasa dirinya terhormat bila menjadi wali bagi seseorang yang dulunya adalah seorang budak. Bahkan, ia menganggap itu sebagai kemuliaan bagi keluarganya. Ia mengawinkan Salim dengan keponakannya, Fathimah binti Al-Walid bin Utbah. Peradaban baru ini telah menghancurkan pembagian kasta yang tidak adil dan menghapus rasialisme palsu, dengan kebenaran dan kejujurannya, serta keimanan dan pengabdiannya, Salim selalu menempatkan dirinya dalam barisan pertama.

Tidak salah bila ia menjadi imam bagi orang-orang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah setiap shalat mereka di Masjid Quba. Ia menjadi andalan tempat bertanya tentang Kitabullah, hingga Nabi memerintahkan kaum muslimin belajar darinya. Ia banyak berbuat kebaikan dan memiliki keunggulan yang menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam golonganku, seseorang seperti dirimu.

Bahkan, rekan-rekannya sesama orang beriman menyebutnya, “Salim salah seorang di antara orang-orang shaleh.”

Riwayat hidup Salim tidak berbeda dengan riwayat hidup Bilal, riwayat hidup sepuluh shahabat Nabi ahli ibadah, dan riwayat hidup para shahabat lainnya yang sebelum memeluk Islam hidup sebagai budak beliau yang hina dan miskin. Ia diangkat oleh Islam dengan mendapat kesempurnaan petunjuk, sehingga ia menjadi penuntun umat ke jalan yang benar. Ia juga menjadi tokoh penentang kezaliman sebagai ksatria di medan laga. Pada diri Salim terhimpun keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam Islam. Keutamaan-keutamaan itu berkumpul pada dirinya dan bersinar di lingkungan sekitarnya, sementara keimanannya yang mendalam mengatur semua itu menjadi suatu susunan yang sangat indah.

Kelebihannya yang paling menonjol adalah mampu mengemukakan apa yang benar secara terus-terang. Ia tidak menutup mulut terhadap suatu kalimat yang seharusnya diucapkannya, dan dia tidak mungkin mengkhianati hidupnya dengan berdiam diri terhadap kesalahan yang menekan jiwanya.

Setelah Mekkah dibebaskan oleh kaum muslimin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan beberapa rombongan ke kampung-kampung dan suku-suku Arab di sekeliling Mekkah, dan menyampaikan kepada penduduknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja mengirim mereka untuk berdakwah, bukan untuk berperang. Sebagai pemimpin dari salah satu pasukan adalah Khalid bin al-Walid.

Ketika Khalid sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkannya terpaksa menggunakan senjata dan menumpahkan darah. Ketika peristiwa ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau memohon ampun kepada Rabbnya sangat lama sekali sambil berkata,

Yaa Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid.

Umar juga memiliki kesan tersendiri terhadap peristiwa tersebut, ia pun mengungkapkan, “Ada kezaliman dalam perang Khalid.”

Salim Maula Abu Hudzaifah ikut dalam satuan yang dipimpin oleh Khalid ini bersama shahabat-shahabat yang lainnya. Ketika Salim melihat perbuatan Khalid itu, ia menegurnya dengan sengit dan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Khalid pada awalnya hanya diam dan mendengarkan apa yang dikemukakan temannya tersebut, kemudian membela dirinya, sehingga pada akhirnya meningkat menjadi perdebatan sengit. Tetapi Salim tetap berpegang pada pendiriannya dan mengungkapkannya tanpa rasa takut.

Ketika itu ia memandang Khalid bukan sebagai salah seorang bangsawan Mekkah, dan ia pun tidak merendahkan diri karena dahulu ia seorang budak. Hal ini tidak memengaruhinya sama sekali karena Islam telah menyamakan mereka. ia juga tidak memandangnya sebagai seorang panglima yang kesalahan-kesalahannya harus dibiarkan begitu saja, tetapi ia memandang Khalid sebagai rekan dalam kewajiban dan tanggung jawab. Ia menentang dan menyalahkan Khalid bukanlah karena ambisi atau suatu maksud tertentu, melainkan hanya melaksanakan nasehat yang diakui kebenarannya dalam islam, dan yang telah lama didengarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa nasehat itu merupakan penegak agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Agama ini nasehat, agama ini nasehat, agama ini nasehat.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar perbuatan Khalid bin al-Walid, beliau bertanya, “Adakah yang menyanggahnya?

Alangkah agungnya pertanyaan itu, dan alangkah mengharukan. Kekecewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi surut, ketika mereka mengatakn kepada beliau, “Ada, Salim menegur dan menyanggahnya.”

Salim hidup mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang beriman. Ia tidak pernah ketinggalan dalam suatu peperangan mempertahankan agama dan tidak kehilangan semangat dalam suatu ibadah. Persaudaraannya dengan Abu Hudzaifah pun makin hari makin bertambah erat dan kokoh.

Saat Rasulullah meninggal dan Khalifah Abu Bakar menghadapi persengkongkolan jahat dari orang-orang murtad. Pertempuran Yamamah pun terjadi. Suatu peperangan sengit, yang merupakan ujian terberat bagi umat Islam. Kaum muslimin berangkat untuk berjuang. Salim bersama Abu Hudzaifah sebagai saudara seagama tidak ketinggalan dalam peperangan ini. Pada awal pertempuran, kaum muslimin tidak mampu bertahan. Tetapi, setiap Mukmin telah merasa bahwa peperangan ini adalah peperangan yang menentukan, sehingga segala akibatnya menjadi tanggung jawab bersama. Mereka dikumpulkan sekali lagi oleh Khalid bin al-Walid. Ia menyusun barisan dengan cara dan strategi yang mengagumkan. Abu Hudzaifah dan Salim berpelukan dan saling berjanji siap mati syahid demi agama yang benar, yang akan mengantarkan mereka kepada keberuntungan dunia dan akhirat. Dua orang bersaudara seiman itu menerjunkan diri ke medan perang yang sedang bergejolak.

Abu Hudzaifah berseru, “Wahai para ahlul-Qur’an, hiasilah al-Qur’an dengan amal-amal kalian!!”

Seketika itu juga pedangnya berkelebat bagai angin topan dan ia menghujamkan tusukan-tusukan kepada pengikut Musailamah. Salim berseru, “Amat buruk nasibku sebagai ahlul-Qur’an, apabila benteng kaum muslimin bobol karena kelalaianku.”

Abu Hudzaifah menyahut, “Tidak mungkin demikian, wahai Salim. Bahkan engkau adalah sebaik-baik Ahlul-Qur’an.”

Pedangnya seolah menari-nari menebas dan menusuk pundak orang-orang murtad yang memberontak dan ingin mengembalikan kejahiliyyahan Quraisy dan memadamkan cahaya Islam. Tiba-tiba, salah satu pedang orang-orang murtad itu menebas tangannya hingga putus. Itu merupakan tangan pemegang bendera Muhajirin setelah pemanggulnya yang pertama, Zaid bin al-Khaththab gugur. Ketika tangan kanannya putus dan bendera perang jatuh, ia segera mengambilnya dengan tangan kiri, lalu mengacungkannya tinggi-tinggi sambil mengumandangkan ayat al-Qur’an,

Dan betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali ‘Imran: 146).

Sebuah semboyan yang sangat agung. Semboyan yang dipilih Salim saat menghadapi ajalnya. Sekelempok orang murtad mengepung dan menyerangnya, hingga pahlawan itu tersungkur ke tanah. tetapi, rohnya belum juga keluar dari tubuhnya yang suci, sampai pertempuran itu berakhir dengan kematian Musailamah al-Kadzdzab, dan kemenangan berada di tangan kaum muslimin.

Ketika kaum muslimin mengindentifikasi korban dan para syuhada, merek menemukan Salim dalam keadaan sakaratul maut. Ia sempat bertanya kepada mereka, “Bagaiaman keadaan Abu Hudzaifah?”

“Ia telah menemui syahidnya.” Jawab mereka.

“Baringkanlah aku di sampingnya.”

“Ini dia di sampingmu, wahai Salim. Dia telah menemu syahidnya di tempat ini.”

Mendengar jawaban itu, bibir Salim menyunggingkan senyum yang terakhir, dan setelah itu ia tidak berbicara lagi. Dia bersama saudaranya telah menemukan apa yang mereka dambakan selama ini. Mereka memeluk Islam bersama, hidup bersama, dan kemudian gugur syahid bersama pula. Persamaan nasib yang sangat mengharukan, dan suatu takdir yang sangat indah.

Mukmin yang agung itu kini telah pergi menemui Rabb-nya. Umar bin al-Khaththab pernah berkata, “Seandainya Salim masih hidup, pasti ia menjadi penggantiku nanti.”

Sumber: Diadaptasi dari Khalid Muhammad Khalid, Rijalun Haular-Rasuul atau Biografi 60 Sahabat Nabi, terj. Agus Suwandi, Jakarta: Ummul Qura, 2012, hlm. 598-604.

Kisah Uzair

 

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (At Taubah:30)

Allah mewafatkannya selama 100 tahun kemudian menghidupkannya kembali.

Mungkin banyak umat Islam yang bertanya, ”Siapa sesungguhnya Uzair yang dimaksud?” Seorang nabikah ia? Apa keistimewaannya dan bagaimana kisahnya di dalam Alquran?

Pertanyaan di atas sangat lumrah karena memang tak banyak penulis sejarah Islam yang menuliskan kisahnya. Bahkan, banyak ulama yang meragukan kenabian dan kerasulannya. Sebab, tak disebutkan secara jelas mengenai kenabian maupun kerasulannya itu.

Namun, ada juga sekelompok ulama yang menganggapnya sebagai seorang nabi. Sebagaimana dalam hadis Rasulullah SAW, disebutkan jumlah nabi itu sebanyak 124 ribu orang dan jumlah rasul sebanyak 313 orang. Lihat penjelasan nabi dan rasul ini dalam Aqidah al-Awwam karya Syekh Ahmad Marzuqy dan Nur azh-Zhalam syarh Aqidah al-Awwam karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawy al-Bantany.

Siapakah Uzair? Orang Yahudi menganggap Uzair adalah anak tuhan sebagaimana orang Nasrani menganggap Isa. Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al Masih itu putra Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS At-Taubah [9]: 30).

Adapun kisah lengkap Uzair disebutkan dalam Alquran surat Al-Baqarah [2]: 259. “Atau, apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Ia berkata, ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka, Allah mematikan orang itu selama 100 tahun kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, ‘Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?’ Ia menjawab, ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.’ Allah berfirman, ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini 100 tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka, tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata, “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Al-Hafizh Abu Fida Imaduddin Ismail bin Asy-Syekh Abi Hafsh Syihabuddin Umar atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir dalam tafsirnya di Qishash al-‘Anbiyaa` menyatakan, para ulama berselisih pendapat tentang orang tersebut, apakah Uzair, Khidir, atau Armiya bin Khalqiya. Namun, banyak pula yang menyatakan bahwa Uzair bukan nabi. Wa Allahu A’lam.

Ibnu Katsir menambahkan, pendapat yang masyhur menyatakan, Uzair adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah kepada Bani Israil. Ia hidup pada masa antara Daud dan Sulaiman juga antara Zakariya dan Yahya. Ketika itu, di tengah-tengah Bani Israil tak ada seorang pun yang hafal Taurat, lalu Allah memberi ilham padanya untuk menghafal Taurat dan mengajarkannya pada Bani Israil.

Mengenai nama lengkapnya, para ulama berselisih pendapat. Abu al-Qasim bin Asakir menyatakan, “Ia adalah Uzair bin Jarwah.” Ada pula yang menyatakan, Ia adalah putranya Suraiq bin Iddiy bin Ayyub bin Darzana bin Uriy bin Taqiy bin Usbu bin Fanhash bin Al-Azir bin Harun bin Imran. Sebagian lainnya menyatakan, ia adalah Uzair bin Sarukha. Disebutkan dalam sebuah Atsar bahwa kuburnya berada di Damaskus.

Baitul Muqaddas

Dikisahkan, pada suatu hari Uzair sedang melintas di sebuah negeri yang porak-poranda. Pendapat yang masyhur mengatakan, negeri yang dilintasi itu adalah Baitul Muqaddas, Palestina. Ia melintasinya setelah negeri itu dulunya dihancurkan oleh Bukhtunnashir. Penduduknya juga terbunuh sehingga negeri itu tampak sepi.

Uzair melintasi bangunan-bangunan yang telah roboh. Ia berhenti sambil merenungkan mengapa kondisi itu bisa terjadi, padahal sebelumnya ramai. “Bagaimana Allah akan menghidupkan kampung ini setelah ia mati?” Hal itu diucapkannya setelah ia melihat kehancuran kampung yang dahsyat. Kemudian Allah mematikannya selama 100 tahun.

Allah menghidupkannya kembali. Pertama adalah matanya agar ia bisa melihat, berikutnya adalah anggota badannya. Ketika ia terbangun, Allah bertanya kepadanya melalui perantara malaikat. “Berapa lama kamu tinggal?” Ia menjawab, “Satu atau setengah hari.” Karena ketika ia merasa tertidur, waktunya siang hari dan ketika bangkit juga pada siang hari.

Lalu Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu telah tinggal di sini selama 100 tahun. Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali; kemudian Kami membalutnya dengan daging.”Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) Ia pun berkata, “Saya yakin bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah [2]: 259).

Kembali ke kampung

Setelah yakin akan kekuasaan Allah itu, Uzair kembali ke kampung dengan menaiki keledainya. Ia menyaksikan kampung itu sudah banyak diisi oleh manusia. Ketika melewati orang-orang, ternyata mereka tidak mengenalinya lagi. Ia pun mendatangi rumahnya dan di sana ada seorang wanita buta yang berusia sekitar 120 tahun.

Sebagaimana dikisahkan Ibnu Katsir, saat Uzair meninggalkan kaumnya, wanita itu berusia 20 tahun dan sebelumnya mengenal Uzair dengan baik. “Wahai Ibu, apakah ini rumah Uzair?” tanyanya. Wanita itu membenarkannya dan menangis. Sebab, selama 100 tahun tak ada orang yang menyebut nama tersebut.

Uzair pun memperkenalkan dirinya dan menceritakan tentang kematiannya selama 100 tahun. Wanita itu tak mempercayainya begitu saja. Uzair adalah seseorang yang mustajab doanya. Dan, ia senantiasa mendoakan orang yang sakit dan tertimpa musibah untuk diberikan kesehatan dan kesembuhan. “Berdoalah kepada Allah agar mengembalikan penglihatanku, sehingga aku bisa mengenalimu.”

Uzair berdoa untuk kesembuhan wanita itu. Ia kemudian mengusapkan kedua tangannya ke mata perempuan tua itu. Atas izin Allah, wanita itu pun sembuh dan bisa mengenali Uzair.

Wanita itu kemudian mendatangi orang-orang Bani Israil dan mengatakan bahwa Uzair telah kembali. Namun, Bani Israil itu tak langsung mempercayainya. Setelah wanita itu bersaksi siapa dirinya, dengan serta-merta orang Yahudi itu mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah. Anaknya pun mengenali Uzair dari tanda hitam yang ada di antara kedua pundaknya. Mereka pun akhirnya meminta Uzair untuk membacakan kitab Taurat sebab di antara mereka sudah tidak ada lagi yang paham tentang kitab Taurat, karena telah dibakar oleh Bukhtunnashir.

Ayahnya Uzair, Sarukha, telah menyembunyikan sebuah kitab Taurat di salah satu tempat dan hanya Uzair yang tahu tempat itu. Maka, ia pun menggalinya dan mengeluarkan Taurat dari dalam tanah.

Uzair kemudian merenungi isi Taurat yang telah diingatnya dan orang-orang Bani Israil memperhatikannya. Allah kemudian mengilhamkan padanya isi Taurat dan ia menyampaikan isinya kepada Bani Israil. Sejak saat itulah, oleh Bani Israil (Yahudi), Uzair dipanggil dengan putra tuhan.

Menurut Ibnu Asakir yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abdullah Ibnu Salam bertanya padanya dan menanyakan panggilan Uzair putra tuhan itu. Ibnu Salam menjelaskan, “Ketika Uzair menulis Taurat dari hafalannya, Bani Israil berkata, ‘Dulu Musa hanya bisa memberikan Taurat kepada kita dengan tulisannya, tetapi Uzair memberikan Taurat kepada kita tanpa tulisan (kitab)’.” Maka, sekelompok orang mengatakan Uzair putra tuhan sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Taubah [9]: 30.

Para ulama mengatakan, turun-temurunnya kitab Taurat terputus hingga masa Uzair. Menurut Ishaq bin Bisyr, pada masanya terdapat sembilan kejadian besar, yakni Bukhtunnashir, kebun Shan’a, kebun Saba, Ashab al-Ukhduud, Hashur, Ashab al-Kahfi, Ashab al-Fiil, kota Anthakiyah, dan kejadian kaum Tubba penyembah berhala.

Menurut situs wikipedia, makamnya terletak di Busra, Syam (Suriah, sekarang). Sementara itu, menurut situs jafariyanews.com, makamnya terletak di Irak. Di daratan sungai Tigris, terdapat makamnya. Sedangkan situs gotquestion.org melaporkan, Uzair oleh dunia Barat dipanggil dengan nama prophet Ezra . Sebuah buku yang menceritakan kisahnya ditulis selama lebih kurang satu abad sejak 538 SM dan baru selesai tahun 460-440 SM. Wa Allahu A’lam.

Uzair dalam Tradisi Yahudi

Para ahli Barat berbeda pendapat mengenai Uzair ini. Ada yang mengatakan, mereka adalah seorang nabi yang diutus kepada Bani Israil. Namun, ada pula yang menyebutkan ia hanya orang biasa yang memiliki keistimewaan.

Joan Mary Winn Leith dalam The Oxford History of the Biblical World , kisah Uzair (Ezra) telah disempurnakan dalam kitab suci berdasarkan kisah pengalaman keagamaannya.

Sedangkan Gosta W Ahlstrom menjelaskan, terdapat inkonsistensi dalam tradisi Yahudi yang menyebutkan Uzair sebagai ayah dari orang-orang Yudaisme (Yahudi). Menurutnya, apa yang dilakukan Uzair sama seperti yang dikerjakan Musa sebagai seorang pemimpin. Uzair mengajarkan Taurat kepada sekitar 5000 orang Bani Israil.

Mereka yang berselisih paham mengenai raja yang menghancurkan negeri tersebut. Apakah Artahsasta I (465-424 SM) atau Artahsasta II (404-359 SM). Sebagian besar sarjana Barat mengatakan, ia hidup pada masa pemerintahan Artahsasta I. sya/wikipedia

Oleh Syahruddin El-Fikri
Wa Allahu A’lam.