Berteman Dengan Orang Shalih

Berteman Dengan Orang Shalih

Bagian Pertama ✅

Manusia tidak bisa hidup sendiri, ia membutuhkan teman untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Memilih teman bukan perkara sepele, karena teman mempunyai pengaruh yang besar bagi seseorang dalam hidupnya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena terpengaruh teman yang buruk. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Pengaruh teman buruk

Teman yang buruk memberikan pengaruh yang begitu dahsyat. Mereka akan selalu mencari cara bagaimana merusak fitrah temannya atau menghalang-halanginya agar tidak berbuat kebaikan hingga akhirnya terperangkap dalam kekafiran dan kemaksiatan.

Abu Thalib adalah salah satu dari sekian contoh tentang dahsyatnya pengaruh seorang teman yang buruk. Di saat ajal menjelang, Rasulullah menuntun pamannya tersebut agar mengucapkan kalimat tauhid, laa ilaha illallah. Namun ia enggan, karena lebih terpengaruh kepada teman akrabnya yaitu Abu Jahal yang selalu berpesan agar tidak meninggalkan agama nenek moyang mereka. Akhirnya Abu Thalib pun meninggal dalam kekafiran.

Bukti lain yang terjadi hari ini adalah para pecandu narkoba dan minuman keras. Sebagian mereka terjerumus kedalamnya karena akibat pengaruh teman yang buruk.  Teman yang buruk ini pun menjebaknya untuk mencicipi barang haram ini secara gratis dengan dalih macam-macam hingga akhirnya mereka menjadi  pecandu yang sebenarnya. Padahal sebelumnya ia seorang yang taat kepada Allah, juga patuh kepada orang tuanya. Wal ‘iyadzubillah.

Maka tepatlah sabda Nabi saw:

“Janganlah engkau berkawan kecuali dengan orang beriman dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Rasulullah memberikan permisalan teman yang baik dan teman yang buruk:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

Demikianlah permisalan yang diberikan Rasulullah tentang berteman. Bahkan jika kita ingin mengetahui seseorang apakah ia shalih atau thalih (jahat), maka lihatlah temannya. Jika teman-temannya adalah orang shalih, ia akan menjadi orang shalih pula. Sebaliknya, jika teman-teman disekitarnya jahat dan bejat, hampir dipastikan bahwa ia tidak jauh dari sifat teman-temannya. Rasulullah saw bersabda:

“Seseorang akan mengikuti kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad).

Rasulullah juga mengajarkan doa kepada kita agar terhindar dari teman yang buruk.

اَللَّهُـمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوْءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوْءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْـمُقَامَةِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, teman yang jahat, dan tetangga yang jahat di lingkungan di mana aku tinggal menetap.” (HR.Thabrani)

Karena khawatir mendapat teman yang buruk, salah seorang tabi’in yang bernama Alqamah, ketika masuk ke Negeri Syam langsung menuju masjid untuk melaksanakan shalat dua rakaat. Kemudian dia panjatkan sebuah doa: “Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik di negeri ini.” Akhirnya Allah mempertemukannya dengan teman yang shalih, seorang sahabat Rasul bernama Abu Darda’.

Disarikan dari :  rubrik Fadilah majalah Ar-risalah

ADIK REMAJA YANG MALAS BANGUN SHUBUH

Bisikan Setan Lewat Tiga Ikatan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَقِدَ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!” Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Setan akan membuat ikatan di tengkuk manusia ketika ia tidur. Ikatan tersebut seperti sihir yang dijalankan oleh setan untuk menghalangi seseorang untuk bangun malam. Karena ikatan itu ada akhirnya setan terus membisikkan atau merayu supaya orang yang tidur tetap terus tidur dengan mengatakan ‘malam itu masih panjang’.

Lantas bagaimanakah solusinya untuk bisa lepas dari tiga ikatan setan yang terus merayu agar tidak bangun malam? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusinya:

(1) bangun tidur lalu berdzikir pada Allah

(2) kemudian berwudhu

(3) mengerjakan shalat

Faedah dari berdzikir pada Allah ketika bangun tidur, ini kembali pada faedah dari dzikir secara umum. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim bahwa dzikir dapat mengusir setan, mendatangkan kebahagiaan, mencerahkan wajah dan hati, menguatkan badan dan melapangkan rezeki. Lihat mengenai Fawaid Dzikir dalam Shahih Al Wabilush Shoyyib hal. 83-153.

Di antara dzikir yang bisa dibaca setelah bangun tidur adalah dzikir berikut ini:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur” [artinya: Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan]. (HR. Bukhari no. 6325)

Atau bisa pula membaca dzikir berikut,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

“Alhamdullillahilladzi afaaniy fii jasadiy, wa rodda alayya ruhiy, wa adzina lii bi dzikrih” [artinya: Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan telah mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya]. (HR. Tirmidzi no. 3401. Hasan menurut Syaikh Al Albani)

Adapun shalat malam sendiri adalah kebiasaan yang baik bagi orang beriman di mana waktu akhir malam adalah waktu dekatnya Allah pada hamba-Nya. Dari ‘Amr bin ‘Abasah, ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

“Waktu yang seorang hamba dengan Allah adalah di tengah malam yang terakhir. Siapa yang mampu untuk menjadi bagian dari orang yang mengingat Allah pada waktu tersebut, maka lakukanlah.”(HR. Tirmidzi no. 3579. Shahih menurut Syaikh Al Albani).

Adapun orang yang tidak bangun shubuh hakekatnya masih terikat dengan tiga ikatan tadi. Ia terus dibisikkan oleh setan sehingga tidak bisa bangkit untuk bangun.

Apa Manfaat Bangun Shubuh?
Disebutkan di akhir hadits bahwa orang yang bangun dan terlepas darinya tiga ikatan setan, ia akan semangat dan fit di pagi harinya. Jika tiga ikatan tersebut tidaklah lepas, maka akan malas dan tidak sehat di pagi harinya.

Mari terus semangat bangun malam dan bangun Shubuh. Moga kita termasuk golongan yang mendapatkan kebaikan dan keberkahan yang banyak lewat doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, Tirmidzi no. 1212 dan Ibnu Majah no. 2236. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Wallahu waliyyut taufiq.

 

Referensi:
Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliyaa, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Shahih Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ke-11, tahun 1427 H.

Selesai disusun di Darush Sholihin, 09.23 PM, 20 Rabi’ul Awwal 1436 H

Saudaramu yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/10045-keutamaan-bangun-shubuh.html

MAU DISEBUT MUSLIM?

 

1- Anda muslim, tetapi masih sulit #shalat, #shalat pun pas musiman. Kadang juga shalatnya pas lagi butuh.

2- Padahal rezeki jalan terus, Allah tak pernah mencabut rezeki. Padahal tanda syukur pada rezeki itu adalah dengan ibadah.

3- Coba lihat Allah itu begitu penyayang, makanya Allah disebut Ar-Rahman, artinya Maha Kasih.

4- Kasih Allah untuk yang beriman dan rajin ibadah, maupun yang tidak. Termasuk pula pada yang enggak #shalat.

5- Namun pantaskah kasih sayang Allah dibalas dengan maksiat?

6- Coba kalau ada orang tua yang terus memberi kasih pada anaknya, lantas dibalas dengan kedurhakaan, pantaskah?

7- Sama halnya dengan perihal rezeki yang Ar-Rahman beri, pantaskan dibalas dengan enggan #shalat.

8- Saat sahabat Mihjan hanya duduk2 ketika Nabi sdg shalat, beliau menegurnya, “Bukankah engkau seorang muslim?”

9- Mihjan menjawab bahwa ia sudah melaksanakan shalat dengan keluarganya.

10- Seandainya tanda seorang muslim bukan dengan ia shalat, tentu nabi tidak bertanya pada Mihjan seperti tadi.

11- Itu pada seorang Mihjan, tentu nabi akan tanya hal yang sama pada orang yang beliau lihat tidak #shalat.

12- Berarti tanda seorang muslim harus #shalat bukan?

13- Semoga kita bisa sadar #shalat, kita juga hendaknya mengingatkan lainnya untuk hal #shalat ini.

%d bloggers like this: